Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ing ngarso sung tulodo,
ing madyo mangun
karso, tut wuri
handayani”
(Ki Hajar Dewantara)
Proses Pendidikan yang Sia-sia
Masih ingatkah kita pada stateman atau kata-kata sesal, bahwa “pendidikan kita hanya akan menghasilkan air mata?” Artinya ekor dari seluruh proses edukasi kita, pada akhirnya toh hanya sia-sia belaka.
Proses pendidikan yang pada akhirnya tidak menghasilkan pribadi manusia yang berkualitas, namun justru menghasilkan pribadi manusia yang hanya besar kepala, namun tidak berhati nurani.
Surat Pembaca Kompas
Seperti sebuah pernyataan berupa keraguan berikut ini, “Dengan maraknya kasus minor di lembaga pendidikan tinggi, bisakah dihasilkan lulusan berkualitas yang siap jadi subjek atas pembangunan dan peradaban bangsa Indonesia? Nah demikian isi paragraf akhir dari tulisan Yes Sugimo, jalan Melati Raya, Melatiwangi Cilengkrang, Bandung dalam opininya berupa Surat kepada Redaksi, berjudul “Gelap Dunia Kampus,” Kompas, Rabu (23/4/2025).
Deretan Kampus Gelap
Lewat surat kepada Redaksi, beliau menderetkan sejumlah kasus yang menimpa sejumlah Perguruan tinggi (PT) di tanah air.
Antara lain:
- Guru Besar di UGM terbukti lakukan pelecehan (Kompas, 9/4/2025.
- Kekerasan seksual, korban mahasiswa PPDS Priguna 3 orang (Kompas, 10/4/2025).
- PTN di Semarang, mahasiswa senior memalak mahasiswa yunior program pendidikan dokter spesialis sampai meninggal.
- Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta dan Politeknik Ilmu Pelajaran Semarang.
- Tahun 2022 terjadi kekerasan di sebuah kampus di Lampung berupa ulah rektor yang memperjualbelikan kursi calon mahasiswa baru di fakultas kedokteran.
- Seorang politikus ternama menuai protes karena memperoleh gelar doktor kilat dari UI.
Perguruan Tinggi yang tidak Berkekuatan Moral
Inilah sejumlah contok konkret berupa ulah yang memalukan dari sejumlah kampus gelap di tanah air kita. Sungguh sangat disayangkan, karena kampus sebagai satuan Pendidikan tertinggi, tapi rendah dalam aplikasi skill dan moral, demikian Yes Sugimo.
Menilik pada aneka kasus yang berlatar belakang amoral ini, justru mau menunjukkan, bahwa sungguh betapa rendahnya akhlak para pengelola bidang pendidikan tinggi bangsa kita.
Di balik aneka kasus amoral ini, sebetulnya apa yang jadi faktor penyebabnya? Tentu, semua kejadian memilukan ini bermula dari tindakan manusia lewat proses dan rendahnya kualitas pelayanan, yang akhirnya berdampak sungguh miris ini.
Apa yang salah dalam proses pendekatan pendidikan kita, sehingga akhirnya menghasilkan out put berupa manusia yang rapuh dan tidak beradab secara mental serta moral ini?
Inilah yang dimaksudkan dengan adagium, “pendidikan yang hanya menghasilkan air mata.”
“Quo Vadis,” pendidikan tinggi kita?
…
Kediri, 24 April 2025
Ilustrasi: Istimewa | Kompas.id

