Mari kita merenungkan kasih yang sudah diterima.
Besar-kecilnya kasih yang kita bagikan kepada mereka yang kita sayangi bisa langsung dirasakan oleh mereka, yaitu kasih dari orangtua, pasangan, kekasih, sahabat, dan kasih dari para gembala kita.
Bagaimana dengan kasih dari Tuhan?
Kasih dari Tuhan itu sungguh melelehkan hati kita. Kasih-Nya kekal abadi. Inilah isi dari kasih yang telah dinyatakan-Nya:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3: 16).
Oh, terima kasih Tuhan.
Kini, kita sudah tahu amat dikasihi Tuhan, lalu apa yang hendak kita lakukan untuk membalas kasih-Nya? Dari kutipan di atas, hanya satu yang diminta oleh Tuhan, yaitu percaya!
Sama seperti yang dikatakan di awal, bahwa besar kecilnya kasih itu langsung bisa dirasakan, karena kita percaya kepada mereka yang mengasihi kita. Kalau tidak percaya, berarti sudah tidak ada kasih. Lalu yang muncul adalah sikap curiga, benci, dan rasa tidak suka yang berlebihan. Karena yang datang dari orang yang tidak kita percayai itu selalu buruk!
Maka, kasih dan percaya itu dipengaruhi oleh mereka yang bisa percaya dan mengasihi, atau bisa dirasakan oleh mereka yang dipercayai dan dikasihi.
Kasih yang terbesar itu ada pada diri seorang yang tergantung di atas kayu salib, yaitu Yesus Kristus. Karena kasih-Nya kekal abadi.
“Ya, Tuhanku dan Allahku!”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

