“Bukan tidak peduli, melainkan izinkan dia mengenali diri sendiri dan mandiri.” -Mas Redjo
Jadi kau tidak peduli dengan teman yang sedang sakit dan diopname itu?
Untuk kesekian kali pertanyaan itu menggedor pintu sadar hati ini membuat saya terhenyak ragu untuk menentukan sikap.
Bagaimana tidak. Maksud saya memberi kail pada teman itu, AA agar tidak bergantung saya dan jadi malas. Tapi agar ia berusaha untuk jadi pejuang yang tangguh dan mandiri.
Jika kerabat dekat saya yang sakit-sakitan itu dibantu dengan diberi kail, dan berhasil. Seharusnya AA yang muda, gesit, dan pintar itu lebih sukses. Faktanya AA sulit menerima saran baik dari teman, bahkan cenderung hidup semaunya sendiri.
Sayangnya, ya, sayangnya. Banyak orang sulit untuk membuka hati. Karena merasa lebih mumpuni dan hebat dari yang lain.
Sekali lagi, jangan membandingkan! Pertanyaannya adalah, apakah kau mau dan peduli, atau tidak?!
Saya menarik nafas. Teringat akan perlakuan buruk AA pada saya. Tidak berterima kasih, meski telah dibantu. Sebaliknya ia menjelek-jelekkan saya di hadapan teman lain.
Tetaplah Berbuat Baik!
Sejatinya saya bersikap cuwek dan tidak peduli itu untuk memancing reaksi AA agar sadar diri dan insyaf, bahwa sikapnya itu keliru, lalu memperbaikinya. Ia tampak keras kepala, padahal membutuhkan pertolongan. Berkirim kabar, lewat telepon atau WA, tidak dilakukan. Apalagi muncul ke rumah, itu jauh dari kenyataan.
Berharap agar AA berubah dan perbaiki diri itu tidak salah. Dengan mendoakannya itu menyuburkan harapan, karena hanya Tuhan yang mampu mengubah hati.
Ketika termangu dalam keraguan, saya diingatkan dengan nasihat bijak Bapa Paus Fransiskus, “Berjanjilah pada dirimu sendiri, seburuk apa pun orang memperlakukanmu, jangan pernah jadi orang jahat. Tetaplah berbuat baik.”
Tidak seharusnya saya berubah sikap, apalagi untuk membalas AA. Saya tidak boleh pamrih. Memberi itu tanpa sekat dan prasangka. Apalagi untuk berhitung dagang. Saya, kau, dan kita memberi pada sesama itu sejatinya untuk mewujudkan kasih Tuhan yang murah hati.
Sekali lagi saya menarik nafas. Keputusan saya bulat dan mantap, yakni berdamai dengan diri sendiri untuk memaafkan AA dan bezuk ke rumah sakit. Saya percayakan AA pada Tuhan, karena Dia anugerahi kita yang terbaik.
Gusti nyuwun kawelasan.
Mas Redjo

