Setelah saya baca, kata demi kata, tulisan Denny JA, jeme Palembang, yang berjudul “In Memoriam Paus Fransiscus,” sambil kubayangkan wajah Bapa Suci yang antara rela dan tidak, untuk meninggalkan dunia ini. Masih begitu banyak hal yang belum tuntas, walau hidup beliau sudah dituntaskan oleh kebangkitan Kristus lewat Misa Paskah yang beliau rayakan sebagai Perjamuan terakhir bersama para sahabatnya di dunia ini.
Refleksi yang halus namun menusuk, mengingatkan, bahwa dunia ini tidak baik-baik saja.
Ketika kabar wafat Paus menggema, lonceng berdentang di Basilika Santo Petrus. Namun gema cintanya terdengar jauh lebih luas: di kamp pengungsi, di hutan yang dibakar, di penjara, di pelukan yang dulu tersembunyi dari Altar.
Paus bukan sekadar gembala Katolik. Ia adalah Imam dunia, yang tidak jijik dipeluk siapa saja, yang tidak risih dicium siapa pun, yang menyatukan doa dalam berbagai bahasa dan air mata dalam segala warna.
Bagi Paus, agama Katolik, Gereja, Paroki, Lingkungan, bukan menara gading bagi para suci, melainkan ‘tenda terbuka’ bagi para pendosa, pecinta bumi, dan pencari makna bagi laki-laki miskin dan kotor yang ingin dibasuh.
Bapa Suci, jika Yang Mulia senang lagu country, saya iringi kepulangan Bapa ke Surga dengan lagu “Country Road…. Take you home, to heaven you belong.” Rest In Peace, Romo Kanjeng Santo Bapa, Fransiscus.
Salam sehat.
Jlitheng

