Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sirkus itu identik
dengan akrobat,
sulapan,
binatang-binatang buas
yang dijinakkan, dan
serombongan badut.
Namun, apa jadinya,
jika yang bermain
sirkus itu adalah lidah
kita, termasuk lidah
para pemimpin?”
(Butet Kartaredjasa)
Orang memang selalu terpana menyaksikan pertunjukan sirkus, tontonan hiburan yang kerap bercanda dengan maut. Menegangkan dan ujung-ujungnya memberi daya kejut. Demikian isi paragraf pertama dalam kolom Opini karya Seniman Butet Kartaredjasa berjudul “Sirkus Lidah,” Kompas, Senin, (21/4/2025).
Mempersandingkan Situasi Sirkus dengan Situasi Sosial Politik Kenegaraan
Fenomena Nirlogika
Lewat tulisan berupa sebuah kritik sosial atas fakta mencemaskan ini, soal tergelincirnya lidah para pemimpin bangsa besar ini, yang penulis sebut tidak saja sebagai sebuah fenomena ‘slip of tongue‘ alias ‘keseleo lidah,’ tapi malah lebih cenderung sebagai fenomena ‘nirlogika.’
Fenomena asal ngomong ini dikesankan, karena mereka merasa diri sebagai orang besar dan penting di negeri ini. Hal ini terbukti, ketika yang seorang bicara begini dan yang lain ngomong begitu. Pokoknya situasi jadi kian runyam, karena statemen mereka yang serba kontradiktif dan bahkan inkonsisten. “Esuk dele sore tempe, mencla-mencle sak karape dewe,” demikian keluh Butet.
Di balik fakta yang mencemaskan tubuh bangsa besar ini, saya kembali teringat akan sebuah guyonan berupa kritikan sosial kepada bangsa besar ini, di saat sebuah pesawat terbang menunjukkan fenomena ketidakstabilan terbang, maka spontan ahli mesin berkebangsaan Jepang segera mencermati, faktor penyebabnya; tapi ahli mesin berkebangsaan Indonesia, justru mengajak untuk mengadakan sebuah rapat darurat untuk menemukan faktor penyebab.
Inilah keunikan dari sebuah bangsa yang manusianya seolah-olah paling pintar ngomong, tapi nyatanya hanyalah ibarat sebuah balon udara.
Lahirlah Perlawanan
Dampak seriusnya, bahwa rakyat akhirnya jadi muak dan tak mau diajak untuk bersabar lagi. Maka, lahirlah aneka bentuk perlawanan, entah terselubung maupun yang terbuka lewat aksi demonstrasi yang sudah terjadi di berbagai kota.
Situasi Carut Marut
Seperti permasalahan ‘pagar laut’ yang kini didiamkan saja dan tanpa mengetahui, siapa dalangnya.
Juga ada pejabat yang berteriak, bahwa tidak akan ada impor beras dan gula, ternyata ibarat jauh panggang dari api, seruan konyol itu tidak terbukti. Karena akhirnya beras dan gula impor kian meraja lela di negeri ini.
Ada petinggi yang berteriak lantang, bahwa tidak akan ada PHK, juga pemutusan hubungan kerja, eh malah dalam seketika para buruh akhirnya bertiarap menjilati debu.
Fenomena Gila Kuasa
Lewat aneka fenomena yang kian mencemaskan ini, kita tidak dapat mengategorikannya sebagai sebentuk keseleo lidah atau nirlogika lagi, namun fenomena ini dapat dikategorikan sebagai sebentuk sikap unjuk kekuasaan dan sikap gila hormat.
Konklusi
Akhirnya, dapat disimpulkan, bahwa sebuah pertunjukan sirkus yang biasanya ditonton di sebuah taman kota atau lewat layar kaca, kini, kita justru menyaksikannya di sebuah arena nyata, yang diawali dari gerbang istana negara hingga ke ruang sidang para wakil rakyat.
Mencuatnya semua fenomena gila ini, justru atas nama sikap gila kuasa yang terekspresi lewat sebuah sirkus lidah latah.
…
Kediri, 22 April 2025

