Kemarin, usai kuliah ada sekelompok mahasiswi menemui saya untuk minta pendapat tentang kesulitan mereka pada mata kuliah tertentu: bingung memahami materi kuliahnya, tidak paham dengab cara dosen mengajar, sering tidak taat waktu. “Siapa dosennya?” Ketika mereka menyebut nama, (saya kenal). Kemudian saya lihat materi kuliahnya, saya juga tidak paham (tak terucapkan).
Pikiran pertama yang muncul, saya akan bicara dengan ketua prodi. Pikiran kedua, saya akan bantu memperbaiki materi kuliahnya, dengan resiko dia tidak menerima atau mengabaikannya.
Penting untuk memahami, bahwa kebaikan dan pertolongan kita adalah tindakan yang berharga, bahkan, jika orang lain tidak menghargainya.
Saya pilih pemikiran kedua, sebab tidak membawa resiko untuk konduitenya.
Tindakan baik dan pertolongan memiliki nilai ‘intrinsik’, yang melekat di dalamnya, tidak bergantung pada pengakuan atau apresiasi dari orang lain.
Ketika kita berbuat baik, kita juga merawat diri sendiri. Dengan berbuat baik, kita dapat membangun karakter yang positif, meningkatkan empati, dan jadi pribadi yang lebih berguna.
Salam sehat.
Jlitheng

