Bapak itu baru saja bercerita (ketika mengantar galon ke rumah), bahwa dia sedang menolong teman yang berstatus ‘dibantu’ PSE seperti dirinya. Katanya, “Jualan dia (mainan anak sekolah) nyaris tidak ada yang beli. Nggak nutup ongkos angkot dari dan ke rumahnya.”
Nolong apa pak?
“Saya anter dan jemput, untuk menutup ongkos angkot.”
“Sampeyan sendiri kurang, harus kerja untuk kebutuhan harian, koq masih mau bantu orang lain tanpa balas?” tanyaku padanya. “Yang saya punyai hanya tenaga dan waktu, Pak. Itulah yang saya sumbangkan untuk bantu dia, supaya dia tidak putus asa. Istri saya setuju,” jawabnya.
Pemberian seperti itu bernilai tinggi, karena menunjukkan kedermawanan sejati dan pengorbanan yang besar dari kekurangannya.
Yesus kagum dengan orang-orang seperti janda miskin. Mereka memberi dari yang mereka miliki, bahkan jika itu adalah sedikit. Mengalir dari hati yang berbelas kasih.
PS – Pekan Suci (1)
Saya bantu dia, supaya bisa bantu temannya dan temannya bisa bantu temannya lagi. Itu namanya ‘Bridge of Hope’ (Titian Harapan).
Salam sehat.
Jlitheng

