“Bukan Tuhan tidak mengasihi kita. Melainkan kita yang tidak peduli dan bersikap cuwek kepada-Nya.” -Mas Redjo
…
Coba, jika kita mau membuka hati, peka, dan peduli. Sesungguhnya, setiap peristiwa yang terjadi pada kita itu anugerah Tuhan. Kasih dan hikmat-Nya dinyatakan!
Saya tidak sependapat dengan pendapat banyak orang, bahwa penyesalan itu datang belakangan atau terlambat. Kalau penyesalan di depan itu namanya preambul, alias pembukaan, dan itu keterlaluan!
Saya sadar-sesadarnya, hidup ini anugerah Tuhan. Kita dianugerahi kehendak bebas oleh-Nya: mau jadi apa, ingin bahagia, atau menderita itu pilihan. Kita yang memutuskan, tapi kehendak Tuhan-lah yang terlaksana dan terwujud.
“Nasib itu ada di tangan kita sendiri. Kita yang memutuskan dan juga untuk merubahnya sendiri,” nasihat Bapak pada saya, ketika saya hendak merantau ke kota.
Saya mengiyakan, karena Bapak telah membuktikan hal itu. Meski tidak bersekolah, faktanya Bapak Ibu mampu menghantar anak-anaknya hingga lulus perguruan tinggi.
Saya bersyukur, karena lingkungan religius membentuk saya sadar diri. Juga di kota besar itu saya aktif di kegiatan sosial, di antaranya Legio Maria.
“Hidup ini harus makin baik, dan kian bertambah baik lagi,” adalah prinsip saya untuk terus berjuang dan pantang menyerah. Intinya dengan semangat pertobatan untuk terus menerus membaharui diri, karena kita diciptakan Tuhan segambar dan rupa-Nya (Kej 1: 26).
Orientasi pembaharuan diri itu dimulai dari pikiran yang baik, positif, dan keinginan untuk sukses agar saya seia-sekata antara ucapan dan perilaku. Dengan mengarahkan pikiran agar saya tetap fokus untuk mewujudkan masa depan nan cerah.
Semangat pembaharuan diri itu makin meningkat dan menguat seiring bertambahnya usia serta saya makin memahami rencana penebusan Tuhan Yesus untuk menyelamatkan umat-Nya.
Hidup yang saya orientasikan pada hikmat Tuhan agar setiap peristiwa yang terjadi dalam diri ini berguna bagi sesama dan bermakna.
Tuhan senantiasa sertai kita hingga akhir zaman!
…
Mas Redjo

