Melihat hidup dari atas, pandangan ini jadi lebih luas, semua tampak kecil, dan nyaris tidak tampak orang yang sedang berjalan.
Ketika melihat dari bawah,
pandangan ini jadi terbatas. Yang berada di sekitarnya tampak besar, melebar, dan menjulang tinggi. Melihat dari bawah, banyak orang berjalan ke sana ke mari, berbaris, menunggu, dan pergi dengan tujuan masing-masing.
Lalu, bagaimana cara melihat hidup? Ambil waktu melihat hidup dari atas, jika ada kesempatan. Tapi juga melihat hidup dari bawah dengan fokus ke arah mana kedua mata memandang. Tapi hati-hati, dan fokus saat berjalan agar tidak bertabrakan.
Melihat dari atas dan dari bawah adalah gambaran dari hidup kita. Saat mengucap syukur seluruh tubuh kita menengadah ke atas. Tapi saat letih mendera, tidak sanggup kedua tangan ini menengadah, maunya menunduk ke bawah dan tidak ada semangat melihat yang ada di sekitarnya.
Hari ini, aku bisa melihat hidupku dari atas dan dari bawah. Saat aku berada di atas, aku merasakan bahagia, karena bisa melihat jejak perjalanan hidupku yang banyak berkatnya. Saat aku berada di bawah, aku pun bahagia, karena sering berjumpa dengan pribadi-pribadi yang menyalurkan berkatnya. Sehingga dapat dirangkum, bahwa yang menentukan bahagia itu adalah hati kita, baik saat berada di atas, maupun saat berada di bawah. Tempat tidak jadi alasan untuk tidak bahagia. Jika ada orang yang tidak bahagia, karena suatu tempat dan posisinya, bisa jadi hatinya gelisah, sulit merasa bahagia, atau memang ada orang yang membuatnya tidak bahagia.
Sejatinya yang membuat hati kita tenang, baik saat berada di atas maupun di bawah adalah rasa syukur kita yang berani menerima kenyataan pahit manis hidup ini sebagai anugerah Tuhan.
Rm. Petrus Santoso SCJ

