Oleh: Fr. M Christoforus, BHK
“Spiritual bukan
supernatural; tujuan
hidup kita adalah untuk
mengenal Tuhan,
bukan untuk jadi Tuhan.”
(Hamdan Hamedan)
Tindakan Salah Kaprah
Tindakan ‘salah kaprah’ itu sering kali terjadi di dalam kancah kehidupan manusia. Hal ini dapat terjadi, justru karena kelalaian kita dengan kebiasaan untuk membiarkan hal-hal yang salah untuk terus terjadi dan diulangi lagi. Maka, lambat laun hal itu akan jadi sebuah kebiasaan.
Dalam konteks ini, kita seolah-olah sudah dibiasakan dengan membiarkan sesuatu yang salah, dan akhirnya sesuatu yang salah itu justru jadi sebuah tradisi dan dianggap sebagai sebuah kelumrahan.
Salah Tujuan
Mari kita ikuti dengan saksama sebuah kisah salah kaprah yang berdampak salah tujuan dalam proses pendampingan dan pembinaan yang dilakukan oleh seorang Guru kepada seorang biksu muda.
Seorang biksu muda mengikuti perintah gurunya untuk belajar bermeditasi di dalam sebuah gua. Setelah sepuluh tahun belajar bermeditasi, maka dia memperoleh kekuatan supernatural. Wujudnya, bahwa dia bisa terbang, menghilang, berjalan di atas air, dan lain-lainnya.
Suatu hari, dia dengan angkuhnya mau mempertontonkan kekuatan supernatural lewat cara melayang di atas air sambil berkata, “Guru, lihatlah kekuatan luar biasa yang telah saya kuasai ini.” Namun apa yang sesungguhnya terjadi?
Ternyata Guru bijaksana itu tidak berkenan dan tidak terkesan dengan aneka demonstrasi konyol serta salah arah itu.
Dengan tegas Guru itu berkata, “Kamu telah salah tujuan, kembalilah untuk bermeditasi di gua sana.”
(Berguru pada Saru, sebuah Refleksi Spiritual)
Fakta Hidup telah Membuktikan
Dalam hidup ini sesungguhnya, kita telah dididik dan dibentuk agar jadi sesosok pribadi yang sadar diri, tahu diri, dan mampu mengendalikan diri. Namun sering kali pula kita sangat sulit untuk bisa mengendalikan ledakan emosi untuk memamerkan diri di hadapan publik.
Tindakan-tindakan fatal ini dapat terjadi, justru seiring dengan keberhasilan kita dalam meraih sebuah prestasi lewat memperoleh gelar kesarjanaan, kedudukan terhormat dalam masyarakat, atau kekayaan secara material.
Karena adanya praktik fakta-fakta miris ini, maka para pendahulu kita menciptakan sebuah peribahasa, “ibarat ilmu padi, yang kian berisi, namun kian merunduk.”
Lewat konteks sebuah tindakan nyeleneh ini, hendaklah kita senantiasa sadar dan berjaga agar tidak terjebak untuk bersikap arogan dengan cara memamerkan ‘pakaian kotor’ milik kita di pinggir jalan.
Konklusi
Dari dan di balik kisah salah kaprah ini, hendaklah kita senantiasa terus mau belajar untuk jadi insan yang sadar diri, tahu diri, karena sikap kerendahan hati yang kita miliki.
Hendaklah kita tidak melupakan prinsip hidup, untuk “belajar seumur hidup!” (Long life education).
Kediri, 12 April 2025

