Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa” (Yoh 8: 34).
Sering kali kita merasa nyaman tinggal di dalam dosa. Bukan sekadar tindakan yang salah, melainkan sebuah kondisi yang memperbudak manusia. Setiap kali melakukan dosa, kita jadi tunduk pada kuasanya dan kita diperdaya olehnya. Kita terjebak dalam lingkaran yang menghalangi kita untuk hidup dalam kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah. Perbudakan dosa ini tidak hanya menghancurkan hubungan kita dengan Allah, tapi juga dengan sesama manusia. Namun, Yesus menawarkan solusi yang penuh kasih. Dia menunjukkan, bahwa kebenaran itu yang memerdekakan kita. Yesus sendiri adalah Kebenaran yang mematahkan rantai dosa. Dengan percaya kepada-Nya, kita dapat dibebaskan dari perbudakan ini dan dipulihkan jadi anak-anak Allah yang sejati.
Dalam masa tobat yang penuh rahmat ini, Yesus mengundang kita untuk merenungkan kehidupan kita sehari-hari. Adakah dosa yang masih membelenggu kita? Adakah kita masih merasa nyaman tinggal di dalam dosa yang sebenarnya menyiksa kita? Mungkin itu berupa sikap sombong, iri hati, kebencian, atau kebiasaan buruk lainnya. Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dengan hati yang tulus, mengakui kelemahan kita, dan menerima anugerah-Nya.
Sr. Anita, P. Karm
Rabu, 09 April 2025
Dan 3: 14-20.24-25.28 MT Dan 3: 52-56; Yoh 8: 31-42
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

