Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ternyata kesombongan
itu pun akan berbuah
juga.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Kesombongan itu Ada di Mana-mana
Kesombongan, alias keangkuhan atau kepongahan itu sungguh ada di dalam relungan kehidupan. Ia hadir dan ada serta akan terekspresi dalam bersikap, berperilaku, serta bertutur. Sungguh, tidaklah sulit untuk mengetahui sifat-sifat kesombongan itu di dalam diri seorang manusia.
Kesombongan Buta
Berikut akan ditampilkan sebuah kisah menarik tentang kesombongan dan dampaknya di dalam dunia binatang.
Seekor singa sambil mendekati seekor badak, dan ia bertanya, “Saudara, siapakah sesungguhnya, si raja hutan itu?”
“Ya, engkaulah,” jawab sang badak.
Kemudian dengan angkuhnya singa itu pun melompat ke atas punggung kuda nil dan bertanya, “Saudara, siapakah yang paling pantas untuk menjadi raja hutan?”
“Ya, tentu engkaulah.”
Lalu dengan tergesa-gesa singa itu menaiki punggung gajah raksasa dan mengajukan pertanyaan, “Saudara, siapakah yang paling pantas untuk jadi raja hutan?”
Apa yang terjadi? Dengan cekatan gajah itu menangkap singa itu dengan belalainya, membelitnya, melemparkannya ke udara, menangkapnya lagi, dan segera mengempaskannya ke sebatang pohon raksasa.
Maka, dengan setengah pusing singa pongah itu bergumam pelan, “Jika saudara memang tidak tahu jawaban yang tepat, sebaiknya kamu tidak perlu sangat marah.”
Lon Jacobe (Parade)
1500 Cerita Bermakna
Laksana Pohon Berbuah Kecut
Sifat kesombongan itu memang akan berdampak sangat negatif dan bahkan sungguh menyakitkan bagi kehidupan ini. Ia tampil bagaikan sebatang pohon yang tampak sangat rindang, meneduhkan, berbunga, serta bahkan berbuah sangat lebat.
Namun sayang, mengapa? Bunga-bunganya yang indah itu, justru menyebarkan bau busuk yang memuakkan serta buah-buahnya terasa sangat kecut. Dampak logisnya, bahwa semua orang pun akan menghindarinya.
Berdampak Negatif
Dalam konteks ini, maka kepada kita pun diamanatkan sebuah kearifan hidup, bahwa kesombongan itu sungguh berdampak negatif, karena sangat menyakitkan kehidupan.
Ia ibarat duri dalam daging bagi kehidupan. Kawan juga segera akan berubah jadi lawan dan keharmonisan hidup pun berbuahkan persengketaan.
Dia sering tidak sadar, siapakah dirinya ini di dalam bertutur, bersikap, dan bergaul. Seketika ia akan dijauhkan pula. Di saat itu, sebetulnya dia telah menerima dampak negatif sebagai akibat dari sifat sombongnya.
Seperti nasib sial singa angkuh yang bahkan sempat dibelitkan, dilemparkan, dan dihempaskan; demikian pula naasnya nasib si sombong di dalam arena kehidupan ini.
Konklusi
Mari kita berguru kepada serumpun padi, yang ‘kian berisi, namun justru kian merunduk!’
Kediri, 9 April 2025

