Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dengan bersyukur, sebenarnya kita
melakukan refleksi lalu melihat diri sendiri.”
(Jakob Oetama)
Sebuah Definisi Praktis
Apa itu kepemimpinan spiritual? Apakah hal itu selalu berkaitan dengan bidang keagamaan? Tidak! Karena kepemimpinan spiritual juga bermakna, bagaimana seorang pemimpin membangun lingkungan usahanya, dengan berlandaskan pada nilai-nilai moral, kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.
Bukankah kecerdasan spiritual itu adalah milik semua manusia?
Sebuah Dambaan Ideal
Jika di tengah praktik korupsi yang kian merajalela, seorang eksekutif di sebuah lembaga pemerintahan yang berani memilih langkah berbeda, yakni dengan mamasukkan unsur spiritual dalam pengembangan kepemimpinannya.
Di saat dunia bisnis sibuk mengejar inovasi dan tranformasi digital demi memenangkan kompetisi, tidak jarang etika justru jadi korban.
Dalam gempuran ini, kepemimpinan spiritual hadir seperti siraman air es yang memberikan kesejukan di bawah terik menyengat. Kepemimpinan yang lebih manusiawi, beretika, dan bermakna. Bukan lagi sekadar idealisme, melainkan jadi kebutuhan yang tak dapat diabaikan. Nah, demikianlah pernyataan dalam dua paragraf pertama karya Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh konsultan SDM dalam kolom Karier, harian Kompas, Sabtu, (5/4/2025), yang berjudul, “Kepemimpinan Spiritual Era Disrupsi.
Kepemimpinan Spiritual adalah Model Kepemimpinan Hati
Mengapa kita justru sangat membutuhkan pendekatan model kepemimpinan spiritual ini? Ketika dunia bisnis dan aneka usaha kita selalu berorientasi dengan mengejar keuntungan secara material, maka seorang pemimpin spiritual justru menginspirasinya lewat sebuah visi yang lebih agung serta manusiawi.
Seorang pemimpin spiritual akan melewati jalur dan sistem kerja yang lebih berorientasi pada kesejahteraan anggotanya serta selalu berusaha untuk menjalin relasi bermakna dengan bersikap empati terhadap para anggotanya.
Hanya di dalam sebuah iklim kerja yang seperti itu, para anggota akan bekerja secara manusiawi dan mereka juga diperlakukan secara manusiawi pula.
Di dalam lingkungan dan iklim kerja yang demikianlah akan terbangun suatu sistem kerja yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dab martabat manusia.
Kepemimpinan Spiritual dalam Tindakan
Bahkan kedua konsultan SDM Kompas ini menyodorkan figur ideal sebagai pemimpin spiritual lewat gaya kepemimpinan Presiden ke-4 RI Abdulrahman Wahid alias Gus Dur.
Mengapa demikian? Hal ini pun dibuktikan lewat kemampuan dan sikap inklusif beliau dengan mencabut larangan perayaan Imlek dan bersedia untuk berdialog dengan kelompok radikal demi meredam konflik di tanah air.
Dalam konteks ini, beliau telah menunjukkan dirinya sebagai pribadi berspiritual. Juga di sisi lain, bukankah ia telah memberikan suri teladan hidup yang sederhana dengan hidup berugahari?
Buah-buah Kebaikan
Di balik sikap berspiritualitas ini, sebetulnya beliau sedang memperlihatkan sikap kedewasaannya di dalam hidup beriman.
Hal itu tidak lain dan tak bukan, di atas segalanya, bahwa sikap kepemimpinan spiritual itu akan tercermin lewat gaya kepemimpinannya yang erat dengan sikap keberimanannya.
Buah-buah dari kedewasaan dan tindakannya mulianya itu terekpresi lewat sikap peduli, bahasa tubuh yang jujur, sikap santun, dan kata-kata bernas yang terlontar spontan dari bibir tulusnya.
Himbauan
Ketika dunia sibuk dan seolah berlomba untuk membangun kembali menara Babel, maka hendaknya kita juga sibuk untuk membangun kembali jembatan kemanusiaan dan cinta.
Kediri, 8 April 2025

