Pandangan saya terhadap figur Ibu, banyak mendapat komentar dari teman. Salah satu komentarnya adalah, “Kita yang tidak mempunyai Ibu lagi berarti matahari itu juga ikut hilang, ya?”
Saya terperangah dan merasa sangat prihatin dengan sudut pandangnya yang dangkal dan sempit itu. Kenapa? (Maaf) Ternyata sosok Ibu digambarkan begitu sederhana dan bagian dari pelintasan waktu serta mudah hilang dari ingatan kita?
Bagi saya pribadi sosok Ibu sangat monumental dalam perjalanan hidup ini. Sejak dalam kandungan, dilahirkan, masa kanak-kanak, hingga menikah dan mempunyai anak, sosok Ibu selalu hadir mendampingi saya dalam suka-duka. Ibu, bagi saya adalah Matahari yang menyertai ke mana pun kita pergi.
Ketika bangun, Ibu dengan penuh pengorbanan dan cinta menyiapkan kebutuhan anak-anaknya, menghantar ke sekolah dengan harapan kita jadi anak pintar, bahkan ketika malam Ibu selalu berdoa untuk keluarga, “Ada namaku disebut dalam doanya.”
Tidak hanya itu, ketika sakit, Ibu selalu mendampingi anak-anaknya. Ibu juga hadir di setiap kita mempunyai masalah. Ketika suami atau salah seorang dari anaknya berkata kasar itu amat melukai hati, Ibu selalu menyimpan kesedihan itu dengan sabar dan derai air mata. Sebaliknya, Ibu malah makin gencar mendaraskan doa untuk kebaikan dan masa depan anak-anaknya, supaya penghidupan kita jadi lebih baik ketimbang orangtuanya.
Selain itu, pekerjaan Ibu itu tidak ada habisnya, dari pagi hingga malam. Siapa yang tidak percaya dan menyangkal fakta itu? Bolehlah, kalau bertukar tugas dengan mengambil peran dan tugas Ibu di rumah? Sanggupkah kita?
Mengomentari atau mencela itu hal gampang. Namun, kita sangat sulit untuk melakukannya. Saya pernah mengamati pekerjaan istri, sedari pagi hingga malam, tidak ada habisnya. Pekerjaannya memang tidak kentara, tapi selalu ada, baik yang ringan hingga yang berat sekali pun, bahkan bisa dibilang selalu menumpuk, menyita waktu dan melelahkan. Sebaliknya laki-laki, suami yang bekerja kantoran lebih banyak menggunakan pikirannya. Kenapa kita mesti mencela pekerjaan wanita yang di rumah?
Padahal Ibu juga tidak terlalu menuntut pada anak-anaknya. Kebahagiaan terlihat, ketika anak-anak lahap makanan olahan, berebut makan, bersendau gurau, atau mendengar pujian Ayah akan kelezatan makanan, rumah yang bersih atau rapi.
Saya merekam benar akan peran Ibu dalam hidup keseharian. Sesekali saya juga mengingatkan pada anak-anak untuk terus belajar menghargai peranan Ibu, atau istri jika kelak anak lelakiku menikah. Mencari istri cantik itu gampang. Tapi sungguh sulit mencari istri yang mau diajak mengarungi samudra suka-duka dalam ikatan “Harapan-Iman-Kasih.” Terlebih lagi yang bisa menyatukan dua keluarga.
Sekarang, hubungan saya dengan (almarhum) Ibu tiada jarak lagi. Karena Ibu hidup di hati saya.
…
Mas Redjo

