“Sangat bersyukur, karena merasa beruntung dan diberkati Tuhan. Dari tabungan uang koin itu, akhirnya saya mampu membeli rumah.” -Mas Redjo
Saya sungguh tidak menyangka, tapi semua ini fakta. Perbuatan baik itu diberkati Tuhan, bahkan Dia memberi kita yang terbaik.
Awalnya adalah musibah banjir di sekitar Ciledug, 2008. Rumah saya terendam banjir hingga sepinggang. Perabotan, barang elektronik, dan uang koin karungan itu terendam banjir, dan rusak. Bahkan menurut tetangga, banjir itu terbesar selama 25 tahun terakhir.
Tidak hanya sedih, tapi istri saya sempat shock. Saya membesarkan hatinya agar ia sabar dan tabah. Saya percaya, di balik musibah itu tersembunyi hikmat-Nya yang luar biasa. Asalkan kita rendah hati dan percaya pada kerahiman-Nya.
Akibat banjir, saya berkeinginan untuk membeli rumah. Istri saya trauma dengan musibah banjir itu. Caranya, saya membeli mesin pengayak uang koin dulu. Karena banyak pelanggan saya yang membayar dengan uang koin. Sehingga harus dipiliah-pilah dan dihitung untuk disetor ke bank. Sedang untuk ditukar ke toko-toko mini swalayan itu membuang waktu, dan beresiko.
Bersyukur, pihak bank tempat saya menabung itu mau menerimanya. Saya memberi jaminan pada bank untuk mengganti, jika uang saya kurang. Karena waktu itu bank tidak mempunyai mesin koin. Sebagai komitmen, saya tidak akan menarik uang itu dan mengendapkannya selama 2 tahun. Sehingga di kartu ATM saya ditulis: khusus teller. Artinya kartu itu tidak berlaku untuk membayar transaksi di bank mana saja.
Setelah 2 tahun menabung uang koin, saya ditelepon seorang Ibu yang tetangga rumah. Ternyata ia karyawati di suatu bank swasta. Saya ditawari pinjaman, jika hendak investasi rumah.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba,” pikir saya. Lalu saya mencari informasi lebih jelas persyaratan dan bunga bank di mana Ibu tetangga itu bekerja, dengan bank tempat saya menabung sebagai perbandingan.
Pertama saya mencari informasi dari bank, rumah anggunan yang jadi kredit macet di wilayah yang dekat rumah, toko, dan sekolah anak-anak. Karena harganya lebih murah dan kami kerasan di Ciledug.
Diberi yang Terbaik
Dibantu teman, saya juga mencari info rumah komplek yang dijual, tapi tidak banjir.
Ketika saya memperoleh rumah di jalan utama komplek, dan sudah memberi uang panjar pada yang empunya rumah. Tiba-tiba rumah itu diserobot oleh orang kaya di komplek saya. Meski saya jengkel dan marah, tapi saya mengalah dan berpikir positif.
“Jika orang menampar pipimu yang kiri, berikan pipimu yang kanan juga” (Matius 5: 39).
Jika kita didholimi, dikhianati, dan disakiti agar tidak membalas, tapi mengalah untuk mengasihi ikhlas hati. Kita serahkan semua itu pada Tuhan yang Empunya hidup ini.
Anugerah Tuhan sungguh dahsyat luar biasa! Dalam waktu relatif singkat, saya ditemukan dengan penjual rumah, selang 100m dari rumah awal, bahkan rumah dua lantai dan luas itu harganya lebih murah! Transaksi tidak bertele-tele langsung ke notaris.
Tabungan uang koin itu lalu saya ambil untuk DP rumah, dan saya lunasi lewat kredit bank selama 3 tahun. Saya juga mencicil rumah itu dengan uang koin hasil berdagang!
Terpujilah Tuhan!
Mas Redjo

