Kebahagiaan orang miskin sering dianggap paradoks: miskin koq bahagia?
Namun penelitian menunjukkan, bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kekayaan, melainkan pada faktor-faktor lain seperti hubungan sosial, rasa syukur, dan makna hidup.
Orang miskin sering lebih bisa menikmati kebahagiaan yang sederhana, seperti kebersamaan dengan keluarga, sahabat, dan alam sekitar.
Kemiskinan mendorong orang untuk lebih menghargai dan bersyukur dengan yang mereka miliki, tidak selalu menginginkan yang ‘wow’, berlebihan. Mereka bersyukur, sudah merasa nikmat bisa makan dengan sayur asem dan gerèh, misalnya.
Orang miskin sering mempunyai jaringan sosial yang kuat, yang dapat memberi dukungan rasa dan karsa.
Orang miskin sering memiliki tujuan hidup yang kuat dan makna hidup yg mendalam, yang dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan.
Lebih mudah sumèlèh menerima keadaan, pasrah tapi tidak menyerah.*
Salam sehat.
Jlitheng

