Ketika salah satu pihak berkhianat, namun pihak lain memilih untuk mengampuni dan melanjutkan hubungan, hal itu menunjukkan, bahwa cinta dan kasih sayang itu lebih kuat dari rasa sakit dan dendam, dan menandakan komitmen kuat terhadap hubungan tersebut.
Betapa pedih-Nya hati Sang Guru, ketika tahu murid-Nya sendiri yang dipilih, dicintai, dididik, dan dilindungi malah mengkhianati dan menjual-Nya secara rècèhan.
Sang Guru membasuh noda-noda khianatan murid-Nya itu dengan darah-Nya sendiri .
“O Sri Yesus, Sang Penebus kakisas yang sangsara…”
Siapa murid itu? Dulu Yudas Iskariot. Kini bisa jadi adalah kita…
“Ya Bapa, aku tak pantas Kau sebut anak-Mu, jadi satu dari antara hamba-Mu saja, cukuplah.”
Salam sehat.
Jlitheng

