Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), saksi adalah orang yang melihat atau mengetahui sendiri suatu peristiwa (kejadian). Bobot kesaksian itu sangat ditentukan oleh kedekatan dengan peristiwa dan keterlibatan dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Umat Israel yang ke luar dari penindasan dan perbudakan di Mesir jadi saksi kuat kuasa Allah yang membebaskan mereka. Allah yang membawa mereka ke luar menunjukkan diri-Nya sebagai Allah yang setia. Namun, umat yang menyaksikan sendiri kebaikan Allah ini dengan cepat lupa, lalu ingkar.
“Alangkah cepatnya mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan. Mereka telah membuat anak lembu tuangan bagi dirinya dan sujud menyembahnya.”
Mereka mempersembahkan kurban kepadanya, sambil berkata: Hai Israel, inilah Allahmu yang telah menuntun engkau ke luar dari tanah Mesir.
Yesus tidak memberi kesaksian tentang diri- Nya. Yesus memberi kesaksian tentang Allah Bapa-Nya, yang mengutus-Nya.
“Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang telah bersaksi tentang Aku.
Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya. Rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya.”
Kita adalah saksi cinta, kerahiman dan belas kasih Allah. Belajar dari Umat Israel, semoga kita tetap setia mendengar suara-Nya dan jadi saksi lewat cara hidup kita.
“Tuhan Yesus, jadikanlah kami saksi-Mu yang setia. Ubahlah hidup kami agar jadi tanda kehadiran kasih Bapa di dunia. Amin.”
Ziarah Batin

