“Jika menulis sebagai nafas hidup, tetaplah bernafas dengan normal agar hidup kita tidak tersengal-sengal.” -Mas Redjo
…
Hidup untuk menulis itu profesi dan jalan takdir saya. Dengan menulis, saya memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani agar saya bahagia.
Menulis yang tidak sekadar asal-asalan, tapi menulis dengan hati untuk dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.
Jika semula saya menulis menuruti mood, kini saya mampu menulis tanpa dibatasi tempat atau waktu. Caranya adalah saya menciptakan mood itu sendiri agar lancar dalam berkarya. Tujuannya agar nafas ini tidak tersengal-sengal, tapi teratur dan seirama.
Tempat sepi nan sunyi dan ramai hiruk pikuk itu tidak jadi masalah bagi saya untuk berkreasi dan berkarya serta memaknainya.
Alasan saya mampu berkreasi di sembarang tempat, karena saya tidak mau memanjakan diri dan bermalas-malasan. Berdiam diri tanpa bergerak itu ibarat mobil yang dionggrokan tanpa dipanasi, sehingga mudah cepat rusak. Begitu pula dengan tubuh ini, jadi tidak sehat dan mudah terserang sakit.
Di tempai ramai dan hiruk pikuk itu saya amat menikmati suasananya untuk terlibat dan bergerak aktif, lalu dituangkan lewat aksi nyata dan karya.
Dalam melayani pelanggan, saya berbagi trik bisnis dan memotivasi mereka agar usahanya makin maju. Dalam pelayanan sosial, saya melayani orang lain dengan menghadirkan kasih-Nya.
Dengan terlibat dalam aneka kegiatan itu saya makin ditail mengekspresikan diri untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain.
Sejatinya hidup ini adalah anugerah Tuhan yang harus dikelola dengan baik dan bijak untuk diteruskan pada sesama sebagai ungkapan syukur kepada-Nya.
Hidup ini ibadah untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
…
Mas Redjo

