“Sebab yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5: 19b).
Dalam perutusan Yesus ke tengah-tengah dunia, Yesus melakukan hal-hal yang baik, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan lain-lain. Intinya: menolong orang yang menderita, dan yang terutama memberikan keselamatan kekal.
Saat Yesus mengatakan, bahwa Ia bekerja seperti Bapa-Nya, orang-orang Yahudi mau menganiaya Dia, karena menganggap-Nya menghujat Allah dengan menyebut Allah sebagai Bapa-Nya, dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
Pada umumnya orang-orang Yahudi mengerjakan yang dikerjakan Ayah mereka. Kalau Ayah seorang tukang kayu, maka anak pun akan jadi tukang kayu. Ayah seorang nelayan, maka anak pun seorang nelayan, karena Ayah akan mengajarkan keahliannya kepada anaknya.
Yesus menjelaskan kepada mereka, bahwa Ia mengerjakan pekerjaan Allah, Bapa-Nya, tidak dari diri-Nya sendiri, tapi, karena Bapa-Nya (bdk. ay. 19-20).
Di masa retret agung ini, mari kita kembali merenungkan yang telah kita perbuat atau kita kerjakan di dalam kehidupan kita. Baik atau tidak baik? Semoga melakukan pekerjaan Allah, Bapa kita, senantiasa jadi kerinduan kita.
Fr. Petrus Selestinus Maria, CSE
Rabu, 02 April 2025
Yes 49: 8-15 Mzm 145: 8-9.13-14.17-18; Yoh 5: 17-30
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

