Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berbahagialah orang-orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah.”
(Delapan Sabda Bahagia)
Hati laksana Cover Buku
Andaikan Anda adalah sebuah buku, maka hati Anda itu adalah cover depannya. Dari tampilan cover buku itulah Anda akan segera dikenal.
Dari totalitas ekspresi jati diri Anda, orang akan segera mengenal, mengetahui, dan memahami “Siapakah sejatinya pemilik diri ini, hanya berdasarkan apa yang tampak dari keseluruhan pribadi Anda.”
Wajah Anda Mengekspresikan Isi Hati
Manusia adalah sesosok pribadi yang terdiri dari aspek jiwa dan badan. Bahkan keduanya itu bukanlah dualisme, melainkan satu kesatuan utuh total.
Jika badan ini tersakiti, maka jiwa pun akan turut merasakan sakitnya. Hal ini akan nampak sangat jelas di kala seorang menderita sakit gigi, misalnya, maka akan tampak juga sekeping wajah yang murung, bukan?
Dari ekspresi wajah yang cemberut, atau tampak tegang, atau terlihat sangat gelisah resah, maka kita segera akan mengetahui, kondisi riil dari batin si pemilik sekeping wajah itu. Dalam konteks sederhana ini, sejatinya Anda dan saya tidak dapat bersembunyi serta mau berbohong lagi, bukan?
Hati Manusia itu Kecil, namun Seluas Samudra
Hati sebagai organ penting dari tubuh jasmani manusia yang secara biologis tampak sangat kecil, namun secara psikologis, rohani, dan spiritual adalah pusat kesadaran dari seluruh kepribadian seorang manusia. Dari hati itu terpancar seluruh jati diri sang pemilik itu. Dari hati itu akan terekpresi, siapakah sang pemilik diri itu.
Bahkan secara rohani spiritual, kita telah sungguh meyakini, bahwa Tuhan rela untuk bertakhta di dalam relung tabernakel nan mungil ini. Tuhan meraja di dalam hati kita.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa sesungguhnya, betapa luas dan dalamnya kualitas sekeping isi hati manusia. Ia bahkan dapat membaca yang sedang berkecamuk di dalam diri seorang manusia. Dalam konteks ini, hati manusia tidak dapat dimanipulasi atau dibohongi.
Kejernihan Pikiran Cerminan Kejernian Hati
Sekali lagi, sungguh sekeping hati itu tidak sudi dibohongi. Bukankah ia akan memancarkan keberadaan dari isi hati manusia secara apa adanya? Bukankah, ia akan menuturkan fakta-fakta hidup yang sebenarnya ada dan terjadi? Maka, akan sungguh haram bagi orang yang berpikiran jernih untuk berkamuflase. Hal ini dapat kita buktikan lewat tuturan dan kesaksian dari orang yang jernih hatinya. Mereka akan bersaksi secara jernih dan benar.
Maka, dari hati yang bersih itu akan terekspresi pula lewat tuturan dan pikiran yang jernih pula. Itulah sebabnya, betapa pentingnya kita menjaga dan merawat kemurnian serta kejernian hati kita.
Konklusi
Semoga di dalam kehidupan ini, kita sanggup untuk mengekspresikan jati diri kita laksana agungnya cover depan sebuah buku kehidupan!
Anda adalah orangnya!
Kediri, 2 April 2025

