“Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap Surga dan terhadap Bapa …” (Luk 15: 18).
Kesengsaraan membuat si Bungsu dalam Injil memutuskan untuk pulang. Mungkin, ia tidak mencintai Bapanya. Saat hidup nyaman ia tidak ingat pada Bapanya. Saat sengsara pun, yang diingat hanyalah makanan di rumah Bapanya (bdk. ay. 17).
Dengan pakaian kumuh dan berbau babi, ia pergi kepada Bapanya. Betapa parahnya keadaannya! Akan tetapi, ia berani datang dan mengaku dengan apa adanya, tidak bersiasat, dan jujur.
“Bapa, aku telah berdosa terhadap Bapa.” Lihat … sambutan Bapanya luar biasa, bukan?
Kalau Anda seorang koruptor, datanglah kepada Tuhan sebagai seorang koruptor. Jangan datang sebagai Malaikat! Itu namanya topeng, … dan bukan Anda. Jangan juga menunggu sampai Anda menjadi Malaikat! Itu juga tidak akan terjadi.
Si Bungsu datang dengan pakaian kumalnya. Ia tidak mampu membeli pakaian indah. Dari diri sendiri, kita tidak mampu membeli pakaian kekudusan.
Mari datang kepada Tuhan dengan apa adanya kita ini dan mengaku, “Bapa, aku sudah berdosa terhadap Bapa. Aku sudah korupsi, …” Saat berjumpa dengan Bapanya, karena Bapanyalah yang menghadiahkan pakaian indah itu kepada si Bungsu. Allah Bapa kitalah yang akan mengaruniakan pakaian kekudusan saat kita datang menjumpai-Nya dengan apa adanya.
Sr. M. Andrea, P. Karm
Minggu, 30 Maret 2025
Yos 5: 9-12 Mzm 34: 2-7 2Kor 5: 17-21; Luk 15: 1-3.11-32
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

