Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kecerobohan dalam bersikap, mendatangkan malapetaka.”
(Didaktika Hidup Tulus)
Surat Pembaca
Jumat, (28/3/2025), dalam harian Kompas, pada kolom Opini, “Surat kepada Redaksi,” ada sebuah opini dari Kosmantono, yang beralamat di Perum MP, Purwokerta, yang berjudul “Grasa-grusu.”
Sejak awal 2025 kita diguncang berbagai situasi yang membuat masyarakat kaget, risau, dan sedih, lalu apatis.
Kenaikan pajak, distribusi gas melon, gelar doktor yang dibatalkan, Pertamax oplosan, vonis koruptor ringan, sampai pengesahan RUU TNI. Semua ini berawal dari pemutus-kebijakan atau pembuat peraturan yang mungkin ‘grasa-grusu,’ tidak berpikir panjang, atau ada sebab lain. Demikian isi pada paragraf satu dan dua.
Kecerobohan Melahirkan Malapetaka
Sang kebijaksanaan mengajarkan kita, bahwa semua sikap dan tindakan yang diambil secara serta merta alias tanpa berpikir panjang dan mendalam, tentu akan mendatangkan malapetaka. Pernyataan yang bermakna kearifan ini, dilandasi oleh pengalaman hidup sang manusia.
Lebih celaka lagi, andaikan kebijakan yang tergesa-gesa ini, justru diambil dan diputuskan hanya berdasarkan atas nama hasrat kekuasaan semata. Semua kebijakan yang diambil tanpa mempertimbangkan harkat masyarakat banyak, biasanya akan menyertakan kegaduhan. Dari kegaduhan itulah akan mendatangkan malapetaka.
Sebuah Saran Cerdas
Sang penulis menyarankan, agar ke depan, para elite politik bangsa kita perlu melakukan pemeriksaan kesehatan mental.
Baginya hal ini penting, agar Indonesia bisa memiliki petinggi yang kompeten, berwawasan luas, dan mempunyai hati yang peduli pada rakyat, supaya Indonesia memiliki masa depan sebagai bangsa yang maju, adiluhung dan mengutamakan nilai-nilai. Demikian harapannya pada paragraf terakhir dalam tulisannya.
Konklusi
“Kecerobohan itu akan
mendatangkan keberantakan, dan keberantakan akan mendatangkan malapetaka!”
…
Kediri, 30 Maret 2025

