“Menerapkan peraturan dalam keluarga itu antara Ibu dan Bapak harus kompak agar anak tidak bingung, apalagi jadi ngelunjak.” -Mas Redjo
Saya tidak pernah malu bercerita atau, jika teman mananyakan perihal orangtua saya. Sebaliknya saya bangga, karena jasa beliau berdua itu saya jadi mandiri dan mapan.
Peraturan atau tata tertib itu dibuat untuk kebaikan bersama agar kita sadar diri untuk taat dan tertib mematuhi dan menerapkannya.
Misalnya, ketika Ibu Bapak meminta pada anak-anaknya bangun pagi, meskipun itu hari Minggu atau libur sekolah.
Ketika ada seorang dari anaknya menanyakan alasannya, jawaban mereka sederhana dan mantap. Tujuannya untuk mendisiplinkan kebiasaan baik itu agar kita rajin dan rezeki tidak dipatuk ayam. Tapi yang utama itu demi kebaikan kami: orang yang taat dan tertib aturan atau hukum itu hidupnya aman dan selamat.
Ketika kami meminta uang kepada Ibu atau Bapak itu juga harus jelas kegunaannya. Meminta itu sesuai kebutuhan penting dan bermanfaat. Tujuannya agar kelak kami pandai mengelola keuangan keluarga.
Mendisiplinan kebiasaan baik itu juga menurun pada keluarga kakak sulung saya yang tinggal di S. Anak lelakinya, T diberi uang Mingguan untuk naik angkot dan jajan. Uang T hilang di jalan. Bapaknya tidak mau mengganti uang itu, sebaliknya T diminta naik sepeda ke sekolah. Alasan Bapaknya agar T hati-hati dan bertanggung jawab dengan uang itu. Sedang Mbak, meski iba dan kasihan pada T, tapi alasan suaminya itu benar dan didukungnya.
Kini, jika ada teman mengatakan, bahwa peraturan atau hukum itu dibuat untuk dilanggar atau dinyinyiri, saya tidak mau komentar atau menanggapi. Sehingga timbul silang pendapat.
Bagi saya, mentaati peraturan dan hukum itu mutlak tanggung jawab pribadi. Karena saya ingin hidup tentram, aman, dan selamat.
Mas Redjo

