Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – “Kelembutanmu, meluluhkan hatiku.”
Seorang pemabuk yang sangat kasar tabiatnya, suatu saat beradu pendapat dengan sang sufi yang dengan ramah memohonnya agar dia tidak bertindak anarkis.
Namun, sang pemabuk ternyata sangat emosional. Maka, dia pun dengan beringas memukulkan gitarnya ke kepala sang sufi hingga terluka parah, dan mengucurkan darah.
Keesokan harinya, sang sufi pun mengirim sekeranjang buah manis, sejumlah uang, serta secarik kertas bertuliskan:
“Saudaraku, semalam aku tidak sengaja merusakan gitarmu dengan kepalaku. Ini, kutitip sejumlah uang agar kau membeli gitar baru.
Juga, aku ingat, semalam ucapanmu pun sungguh pahit, maka kutitipkan buah-buah manis demi memaniskan ucapanmu.”
Saudara, apa yang terjadi? Justru, setelah sang pemabuk menerima titipan itu, cermat membaca surat itu, dia pun terpekur dan meneteskan air mata penyesalan dan tobat.
Konon, sejak peristiwa itu, sang pemabuk itu pun berubah sikap serta tabiatnya.
Sejak itu, sang pemabuk pun berubah. Dia tersentuh oleh kehalusan budi serta sikap rendah hati sang sufi.
Saudara, betapa dasyatnya kekuatan “kata-kata manis” yang ternyata sanggup meluluhkan hati.
…
Wolotopo, 22 Desember 2022

