Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kata-kata yang kita
gunakan memiliki
kekuatan untuk
membangun atau
merusak hubungan.”
(Judith E. Glaser)
Bahasamu Menunjukkan Siapakah Engkau
Kemampuan berbahasamu laksana senjata pamungkasmu di dalam kehidupan ini. Anda tidak perlu belajar jadi seorang orator berkaliber dunia alias seorang singa podium, namun sesungguhnya, potensi untuk cerdas berbicara itu mutlak Anda perlukan.
Saya menyodorkan dua buah idiom atau ungkapan yang mau menunjukkan dan membuktikan, betapa pentingnya potensi berbahasa itu.
- “Bahasa menunjukkan bangsa.”
- “Jika Anda sungguh ingin mengenal potensi dasyat seorang, maka cermatilah potensi percakapannya.”
Tulisan berlatar belakang retorika ini saya turunkan, karena termotivasi oleh sebuah tulisan dalam kolom Karier, Kompas, Sabtu, (22/3/2025) oleh Eileen Rachman & Linawaty Mustopoh (konsultan SDM) yang berjudul, “Kecerdasan Percakapan.”
Hati-hati Saat Berbicara
Keduanya membuka tulisan ini dengan mendeskripsikan, bagaimana runyamnya sebuah situasi atau relasi kehidupan kita sebagai dampak dari ketidakcerdasan kita di saat berbahasa.
Orang akan merasa kecewa dan akhirnya terdiam, tatkala kita dengan sinis memotong percakapannya. Para pegawai kantor akan merasa sangat kecewa, jika idenya ditolak secara kasar oleh atasannya. Sungguh nyata, bahwa sebuah relasi harmonis akan berubah drastis sebagai dampak buruk dari miskomunikasi ini.
Dalam paragraf yang keempat, tertulis ‘situasi ini menunjukkan betapa pentingnya kecerdasan percakapan, yaitu bagaimana kita membangun kepercayaan, menciptakan dialog bermakna, dan menjalin hubungan yang kuat.’
Dari sekadar Berbicara ke Percakapan Bermakna
Judith E. Glaser, pencetus konsep kecerdasan percapakan, membagi percakapan dalam tiga tingkatan, berdasarkan tingkat kepercayaan yang terbangun di antara pihak yang terlibat.
- Pertama, percakapan transaksional. Inilah percakapan yang kita bangun sehari-hari. Tingkat ini masih dalam taraf, seperti Anda menanyakan informasi, atau di saat memberi instruksi. Pada tahap ini, tidak melibatkan emosi dan sifatnya sekadar rutinitas dan terkesan kering.
- Kedua, percakapan posisional. Biasanya terjadi di saat Anda sedang bernegosiasi dan berpersuasi dalam rapat yang penuh ketegangan, misalnya. Dalam tahap ini, hendaklah suatu perbedaan pendapat tidak sampai menimbulkan perpecahan atau permusuhan.
- Ketiga, percakapan transformasional. Inilah tahapan yang paling ideal. Karena di dalamnya orang akan saling menghargai, saling mendengarkan, dan juga bersama-sama mencarikan solusinya.
Apa itu Percakapan Transformasional?
Model percakapan yang sifatnya membagun koneksi dengan orang lain. Di dalam proses ini membuat orang merasa aman, nyaman, dan dihargai. Anda pun akan mampu menghargai orang lain.
Dalam konteks ini, sungguh betapa pentingnya, baik seorang pemimpin mau pun anggota biasa, untuk terus mau belajar tentang pentingnya ‘kecerdasan percakapan.’
Bagaimana Tingkat Kecerdasan Percakapan Anda?
Untuk menjawab pertanyaan penting ini, tentu akan dikembalikan kepada kesadaran dan pemahaman akan potensi diri kita masing-masing.
Hal yang paling vital dan utama, justru tatkala kita terus mau belajar dari dan di dalam proses hidup ini.
Konklusi
“Dengan lebih sadar terhadap cara kita berbicara, kita dapat menciptakan komunikasi yang lebih produktif, saling menghargai, dan penuh kepercayaan,” demikian simpulan akhir dari kedua konsultan SDM harian Kompas ini.
…
Kediri, 29 Maret 2025

