“Di manapun kita menyimpan uang itu selalu ada plus-minusnya.” -Mas Redjo
Seorang teman, Aa sewot! Gara-garanya, sebagai seorang nasabah prioritas, ia dikecewakan dengan pelayanan bank itu. Ceqnya yang diberikan ke suplayer itu ditolak, karena saldonya kurang, dan tanpa pemberitahuan. Ia didenda Rp 125.000 dan diberi SP I. Padahal untuk jadi nasabah prioritas itu ia harus mempunyai saldo rekening minimal 1 M.
Aa komplain ke bank, tempat ia menabung. Tapi tidak ditanggapi, karena itu peraturan. Sekadar menjalankan SOP. Padahal, selama ini, jika saldo rekening gironya minus, pihak bank mengingatkan, sehingga ia segera mengisi rekening itu dengan mobile banking. Kini?
“Kalau mau marah jangan di depan Nyong, napa…,” ledek saya sambil ngakak. “Lebih baik simpan uang di bawah kasur saja. Bayar tunai itu praktis dan diberi diskon lagi!”
“Benar juga,” Aa mengiyakan.“Bunga bank itu kecil. Lebih gedean itu potongan administrasinya.”
Saya diam, tidak membantah. Fakta itu benar. Tapi menyimpan uang di rumah dan menabung di bank itu ada plus minusnya. Yang penting adalah, kita dituntut piawai untuk mengelola dengan bijak agar tidak tekor; lebih besar pasak daripada tiang.
“Bagi Nyong sendiri, ya, gengsi itu kopong. Bayar pakai giro itu kuno. Jika kau tetap ngotot nabung, pilih deposito. Karena bunganya pasti. Caranya pecahlah tabunganmu yang 1 M itu jadi 4 buah deposito bulanan @ 250 juta. Untuk Minggu I, II, III, dan IV. Diperpanjang secara otomatis. Sewaktu-waktu deposito itu bisa kau cairkan”
“Begitu…?!” wajah Aa sumringah.
“Fondasi usahamu dikuatin dulu, gengsi bakal mengikuti,” ledek saya sambil bergelak.
“Trims!”
Mas Redjo

