Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Si rakus pun dapat
mati karena kelaparan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Kisah Midas
‘Midas’, seorang pelayan Raja yang super setia. Di masa tuanya, ia sangat ingin untuk segera pensiun dari pekerjaannya.
Maka, ia segera menyampaikan niat hatinya itu kepada Raja yang akhirnya menawarkan kepadanya, bahwa sebagai hadiah, ia boleh meminta apa saja pada Raja.
Ia pun segera meminta pendapat istrinya. Maka, istrinya berkata, “Mintalah sebuah kekuatan, agar dapat mengubah segala sesuatu jadi emas.”
Di saat Midas menyampaikan permintaanya itu kepada Raja, bertitahlah Raja, “Apakah kamu sungguh yakin, bahwa permintaanmu itu kelak tidak mengecewakanmu?”
“Tidak, Tuanku. Itulah permintaan saya dan istri yang sangat diinginkan.”
Maka, seketika itu juga Midas mendapatkan kekuatan. Bahkan dengan sangat angkuhnya segera dicobanya dengan hal-hal yang ada di sekitarnya.
Dia segera menyentuh topinya dan segera seketika itu, topinya berubah jadi emas. Juga disentuhnya sebuah meja besar, dan seketika, meja itu berubah jadi sebongkah besar emas. Mengalami kedasyatan dan keajaiban yang menakjubkan itu, maka ia bergegas pulang ke rumah.
Di saat dia mencium aroma sedap dari masakan istri, maka masakan itu ingin segera dicicipinya.
Ketika Midas hendak mencicipi gurihnya sekerat daging sapi masakan istri, alangkah terperanjatnya ia, karena seketika daging sapi itu pun berubah jadi sepotong emas.
Lalu dicobanya untuk memakan ham bakar, tapi seketika, ham bakar itu juga berubah menjadi emas. Karena ia sungguh lapar, maka dicobanya juga dengan aneka makanan. Namun hasilnya tetap sama.
Akhirnya, Midas mati kelaparan.
(Christopher Notes)
1500 Cerita Bermakna
Manusia, oh Manusia, betapa Rakusnya Engkau
Setelah mencermati dan mencoba memaknai dengan saksama kisah ini, maka saya berkesimpulan, bahwa benar, ternyata betapa rakusnya makhluk manusia itu.
“Setelah jantung, maka juga dimintanya hati,” demikian peribahasa bangsa kita. Bukankah majas bernas ini, justru diciptakan berdasarkan sebuah fakta hidup?
Lewat konteks alur kisah ini, kita sungguh menyadari, bahwa naluri liar kebinatangan yang rakus itu juga bercokol di dalam diri manusia.
Kini mengertilah kita, bahwa sejatinya, lewat fakta dan realitas hidup harian, kita dapat menyaksikan kenyataan ‘rakus’ itu lewat aneka peristiwa di dalam kancah kehidupan bermasyarakat.
Aneka naluri alam berupa sikap ‘kekonyolan sebagai sifat makhluk purba’ bermunculan di saat manusia garang berebut kuasa, saling membunuh, merampok, dan mengorupsi. Bukankah semua tindakan itu merupakan ekspresi dari sifat-sifat kepurbaan dari manusia?
Pertanyaan Kritis Retoris
Jika demikian, maka bukankah Anda dan saya juga sebagai makhluk manusia?
Ketahuilah, bahwa Midas pun kini masih ada dan berkeliaran di sekitar kita!
…
Kediri, 26 Maret 2025

