“Tidak ada guna membius dengan janji semanis madu. Lebih baik kita menghidupi rencana itu dengan aksi nyata.” -Mas Redjo
Bagi saya pribadi, berjanji itu ibarat hutang yang harus direalisasikan jadi bukti. Jika tidak, permalukan diri sendiri, dan aib itu sulit dicuci.
Jika banyak orang ingkar janji itu urusan mereka, asalkan kita tidak ikut-ikutan, sekadar demi gengsi, apalagi ben-diarani.
Ketika saya diminta berjanji oleh teman-teman Alumni SMP agar Lebaran nanti mudik, dengan halus saya tidak menjanjikan, Insyaallah. Jika Tuhan menghendaki.
Alasan saya tidak mau janji, karena saya bukan pemangku kebijakan atau penguasa. Meski disumpah di atas Kitab Suci, faktanya mereka tetap melanggarnya demi matre atau kepentingan kelompok.
Lama tidak mudik, karena saya janji dengan diri sendiri. Mudik, jika saya sudah sukses. Lebih baik saya hidup prihatin, berhemat, dan rajin menabung.
Saya bersyukur, karena orangtua mau mengerti, memahami. Jika kangen-kangenan, kami cukup video-call-an. Lebih irit dan praktis.
Tapi entah kenapa, Lebaran kali ini saya kangen ingin mudik. Bisa jadi, karena tiba-tiba, tanpa hujan dan angin, Doi mengajak saya mudik. Doi ingin kenalan dengan calon mertua.
“Jika direncanakan sering gagal. Kalau mendadak Mas tidak bisa menolak,” kata Doi manja. “Kita ke Jogja dulu ke rumah Mbah, lalu ke Ambarawa. Bapak Ibu udah oke.”
Saya terperangah, kaget sekaligus gembira. Saya senyum mengiyakan.
“Akhirnya Bang Toyib mudik juga,” seloroh saya.
Kami berdua bergelak.
Mas Redjo

