“Saya tidak mau melihat halaman rumah yang kering, sebagaimana dengan keadaan jiwa sendiri.“ -Mas Redjo
Jika tidak turun hujan, saya selalu membiasakan menyiram halaman rumah itu pagi sore, sebelum dan setelah toko tutup.
Halaman kering yang disiram itu jadi basah, pepohonan menghijau segar, dan aneka bunga bermekaran. Sehingga didatangi banyak kupu-kupu. Amat indah!
Begitu pula dengan jiwa kita yang harus dijaga agar senantiasa sehat, segar dan memancarkan kasih.
Caranya adalah, kita membangun rutinitas untuk menerima Ekaristi Kudus: “Inilah tubuh-Ku… Inilah darah-Ku… Makan dan minumlah…” (Matius 26: 26-28).
Sejatinya sakramentali dengan Ekaristi Kudus itu tidak sekadar mengenyangkan dan menyegarkan, tapi sekaligus jaminan keselamatan jiwa ini.
Setiap kali menerima Ekaristi Kudus, semangat hidup saya berkobar bagai gelombang samudra yang tiada henti memecah di pantai.
Selain dengan Ekaristi Kudus, saya membangun intimasi dengan Tuhan lewat doa, membaca, merenungan, dan melaksanakan firman-Nya.
Dengan bermeditasi saya menolak kering jiwa, hati, dan pikiran ini, sehingga senantiasa disegarkan. Karena penyertaan dan kasih Tuhan pula, saya dimampukan untuk mengurai persoalan hidup secara bijak. Hati ini jadi tenang, tentram, dan damai.
Dengan mudah bersyukur, hidup saya makin dimudahkan.
Terpujilah Tuhan!
Mas Redjo

