Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pada akhirnya, kita
semua hanyalah kenangan
di hati orang-orang yang pernah
kita cintai”
(Sapardi Djoko Damono)
Kutipan Sapardi Djoko Damono
Sapardi Djoko Damono, penyair kenamaan bangsa Indonesia ini berkata, “Pernahkah kita berpikir, tentang bagaimana caranya agar kita mampu meninggalkan jejak-jejak kita di hati orang-orang, sehingga dapat membentuk sebuah kenangan bagi mereka tentang diri kita?”
Kutipan ini tertuang di dalam buku trilogi, “Hujan Bulan Juni,” yang mengajak kita untuk merenung tentang pentingnya, bagaimana relasi ideal yang kita bangun dengan orang lain.
Kutipan serupa ini saya peroleh juga dari medsos inspirasi Mas Redjo, “Berjuta orang disandera oleh jejaknya sendiri di sosmed. Orang bijaksana tinggalkan jejaknya di hati.”
Apa yang Kita Cari?
Setujukah Anda, bahwa kenangan itu lebih indah daripada segala hal materi yang kita miliki?
Adalah sebuah kebanggaan dan kelumrahan juga, ketika seorang anak manusia justru sangat terobsesi meninggalkan warisan, berupa jejaknya di dunia. Lewat titik kerinduan ini, sejatinya seorang manusia ingin, bahwa hidupnya itu sungguh bermakna bagi dirinya dan sesamanya.
Semoga Kita tidak Salah Kaprah
Seperti kutipan inspiratif dari medsos Mas Redjo, bahwa ‘jangan sampai kerinduan hati itu justru berfokus atau disandera oleh jejak kerinduan ego kita sendiri. Artinya, sejatinya kita justru sekadar ‘numpang tenar,’ karena sasarannya justru untuk pemuasan atau ketenaran diri sendiri. Jika demikian, kita telah bertindak salah kaprah. Mengapa? Bukankah idealnya, bahwa jejak itu seharusnya terpatri di dalam hati orang lain?
Bagaimanakah Idealnya?
Bagaimana cara paling ideal agar kita dapat membangun sebuah relasi harmonis serta ideal dengan sesama? Sungguh hal ini memang tidaklah mudah.
Ketika kita sehari-hari riil berhadapan dengan sebuah realitas hidup yang serba khaostis sebagai dampak dari ketidakharmonisan hidup ini? Hal ini pun antara lain sebagai dampak dari hubungan kita yang tidak harmonis, bukan?
Jika realitas hidup kita jutru diwarnai oleh perselisihan dan pertentangan, maka bagaimana mungkin kita akan mampu meninggalkan jejak di dalam hati orang?
Bukankah kenangan berupa jejak terindah di dalam hati orang justru lebih bernilai daripada harta duniawi?
Sebuah Himbauan
Mari kita belajar agar dapat hidup dengan baik dan benar yang akhirnya mampu meninggalkan jejak terindah di dalam hati orang!
…
Kediri, 24 Maret 2025

