Tiba-tiba pengendara motor, seorang Ibu paruh baya, yang penuh membawa barang, ingin menyebrang jalan, refleks kuinjak rem dan dia kuberi jalan.
Sejenak Ibu itu mengangguk takzim. Aku membalas dengan cara yang sama. Tidak tahu yang dipikir, mungkin saja senang, sebab merasa didahulukan, dan anggukan itu tanda terima kasih.
Di jalanan, di ruang publik, orang dengan mudah berterima kasih. Misalnya Ibu tadi dikasih jalan; pengemis dikasih 2000, terima kasih. Tapi tidak demikian di ruang rohani. Misal khotbah di Gereja, renungan dalam doa di Lingkungan. Untuk membuat seseorang berterima kasih, jika tidak dibilang mustahil, terkadang syaratnya terlalu banyak. Tidak lama, harus menarik, tidak datar, berbobot, dsb. Kalau tidak… malas datang.
Padahal mereka diberi bekal masuk ke Surga.
Jangan menyerah. Ya, seperti itu melayani
Salam sehat.
…
Jlitheng

