“Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu” (Mat 21: 43b).
Injil mengisahkan tentang bagaimana Tuhan mengirim utusan-Nya (hamba-hamba) untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada setiap orang (penggarap kebun). Namun, lihatlah betapa banyaknya hati yang menolak, bahkan Yesus (yang digambarkan dengan anak dari tuan kebun anggur itu sendiri) pun ditolak! Tidakkah hal ini juga melukiskan situasi kita dan dunia saat ini? Memang, kita tidak menolak Yesus dan ajaran-Nya secara terang-terangan. Namun, ada begitu banyak penolakan halus yang kita lakukan terhadap pewartaan-Nya, sehingga Kerajaan Allah itu seolah-olah mati dan tidak berbuah dalam hidup ini: kita masih jadi pribadi yang keras, dingin, penuh perhitungan, tidak mau memaafkan, egois, dan menyimpan dendam kebencian.
Jika demikian adanya, Kerajaan Allah akan terasa amat jauh atau bahkan diambil dari kita. Dalam masa Prapaska ini kita diajak membenahi diri dan membangun komitmen baru untuk sungguh bertobat, sehingga Kerajaan Allah jadi berbuah dalam kehidupan kita: kita jadi pribadi yang penuh kasih, sukacita, dan pembawa damai. Bukan di mana ada Surga di situ ada Tuhan, melainkan di mana ada Tuhan di situ ada Surga. Semoga kita dapat menampakkan wajah Tuhan bagi sesama.
Sr. M. Stevane, P. Karm
Jumat, 21 Maret 2025
Kej 37: 3-4.12-13.17-28 Mzm 105: 16-21; Mat 21: 33-43.45-46
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
http://www.renunganpkarmcse.com

