Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku mau hidup seribu
tahun lagi.”
(Chairil Anwar)
Eksistensi Bermakna
Tulisan berupa sebuah motivasi hidup ini, diawali dengan seuntaian kalimat akhir puisi karya penyair Chairil Anwar yang berjudul ‘Aku’. Yakni, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.”
Stateman dari sang pemberani yang bersikap antusiasme ini, merupakan sebuah amanat, bahwa penyair itu tidak ingin mati. Tapi dia ingin terus hadir, ada, serta akan terus berkarya. Dia mengharapkan agar spirit dan cita-cita luhurnya jangan pernah padam. Inilah sebuah tekad keberanian untuk menyatakan eksistensi dirinya dan seluruh cita-cita hidupnya.
Sebuah Cita-cita Hidup
Beberapa waktu yang lalu, seorang kawan mengirimkan sebuah tulisan inspiratif yang sempat viral dan mendapatkan respons yang luar biasa dari masyarakat.
Dalam sebuah acara para selebritis, sang pewara sempat mewawancarai seorang pria tua bertongkat di atas panggung kehormatan.
Ketika ditanya, “Apakah Anda masih sering ke dokter?”
“Ya, saya masih sering ke dokter. Mengapa?”
“Ya, pasien harus sering ke dokter! Hanya dengan cara itu dokter dapat hidup.”
“Apakah Anda masih sering ke apoteker?”
“Ya, karena apoteker juga harus hidup.”
“Apakah Anda benar-bebar memakan atau meminum obat dari apoteker?”
“Tidak! Saya sering membuangnya, karena saya juga harus hidup.”
“Terima kasih Pak tua, karena sudah sudi datang ke acara kami.”
“Ya, sama-sama. Saya tahu, Anda juga masih mau hidup, bukan?”
“Apakah Anda masih aktif di group WA?”
“Ya, saya sering mengirim pesan, karena saya pun ingin hidup. Juga agar nama saya tidak dihapus dari group.”
(Dari berbagai Sumber)
Amanat di Balik Dialog
Mencermati alur dan amanat terselubung dari dialog berupa kritik sosial serta oto kritik ini, saya sempat tercengang akan isi dari guyonan ini. Lewat cara yang sangat santun, sebuah amanat hidup penting disampaikan kepada kita.
Bahwa, apakah sudah ada praktik-praktik gelap dan terselubung dari profesi hidup kita yang sudah jauh melenceng dari misi mulia? Apakah ini hanyalah sebuah dialog guyonan penyegar hidup, ataukah sebuah kritikan sosial atas sebuah realitas hidup?
Semoga mata hati kita segera terkoyak dan tersingkap untuk memulai praktik hidup dengan cara beradab serta dapat membawa keselamatan hidup bagi umat manusia.
Karena bukankah semua orang harus hidup, mereka memiliki hak hidup?
Ingatlah, bahwa hidup kita ini bukan ibarat orang menumpang sebuah kereta senja, melainkan sebagai sebuah ekspresi keberadaan dari rahmat Tuhan.
Untung, kita masih hidup!
Kediri, 21 Maret 2025

