“Menghidupi tradisi mengalah dan memahami orang lain agar kita jadi pribadi yang peduli, rendah hati, dan tulus.” -Mas Redjo
Nasihat Bapak itu tidak sekadar berkata-kata, tapi dihidupi dengan tindakan nyata.
“Jika orangtuamu bisa makan tahu dan tempe, tidak usah kau belikan daging untuk lauknya.”
Makna dan tujuan nasihat Bapak adalah, sebagai orangtua agar kita tidak merepoti dan bergantung pada anak-anaknya. Tapi dituntut bertahan memenuhi kebutuhan sendiri, mandiri, dan ikhlas. Berani sepenuhnya untuk bergantung kepada Tuhan.
Orangtua dikunjungi anak-anaknya itu biasa. Begitu pula kakak yang dikunjungi adiknya. Tapi orangtua yang pergi mengunjungi anaknya, atau kakak mengunjungi adiknya?
Hal itu juga wajar dan biasa. Karena yang membedakan hal itu adalah prasangka, budaya yang tua ingin dihormati oleh yang muda, dan seterusnya.
Berbeda dengan yang diajarkan Bapak, karena kami diajak berani mengalah untuk memahami orang lain, baik kesibukan dan sikonnya. Jika kita tidak sibuk dan ada waktu itu lebih baik menyempatkan diri untuk mengunjungi mereka yang muda dan sedang repot, sibuk, atau banyak persoalan hidup.
Bapak juga mengajarkan budaya ikhlas. Bukan membesarkan prasangka dan sungkanan, karena yang dikunjungi itu orang kaya, pejabat, atau terhormat. Melainkan budaya mengunjungi itu muncul dari hati, karena kita peduli, menghormati, dan merajut silaturahmi. Prasangka buruk dan negatif itu melukai diri sendiri. Tapi ikhlas hati itu menyatukan dan membahagiakan.
Maksud dan tujuan utama Bapak dengan mengalah dan memahami orang lain agar kami jadi pribadi sabar, rendah hati, dan bijaksana.
Meski begitu, saya kurang percaya dan bahkan kaget, ketika Bapak yang usianya hampir 80 tahun itu mengunjungi saya dengan naik bis!
Bapak diantar Mas, karena ingin melihat gubuk baru saya, sekaligus menengok cucu-cucunya.
Padahal saya sekadar minta doa keluarga. Saya tidak mempunyai uang untuk mengongkosi Bapak dan Mas untuk pemberkatan gubuk baru.
Untuk membangun gubuk itu saya pinjam uang ke kantor dan sahabat yang dicicil dari gaji. Sisa gaji itu harus diirit ketat untuk menghidupi keluarga; berlima.
Dengan kehadiran Bapak dan Mas itu pemberkatan gubuk saya adalah karunia luar biasa.
Mukjizat Tuhan itu nyata!
Mas Redjo

