“Berbuat baik dan memotivasi orang lain untuk menerapkannya itu tidak salah. Yang salah itu mereka yang keliru menerapkannya.” -Mas Redjo
Saya tidak marah, kecuali senyum, ketika disalahkan. Istilah mereka, senjata makan tuan, karena saya dikhianati oleh anak buah sendiri.
Jika saya disalahkan itu urusan mereka yang menilainya. Bagi saya pribadi, berbuat baik itu harus tulus agar tidak kecewa dengan hasilnya, apalagi melukai diri sendiri.
Saya memotivasi anak buah agar hidup prihatin, berhemat, dan rajin menabung untuk nantinya dijadikan modal usaha. Prinsipnya, agar kita tidak selamanya itu bekerja pada orang lain, tapi harus mandiri di atas kaki sendiri.
Saya memberi contoh arti kejujuran dan hal baik dalam berbisnis seperti yang harus kita lakukan terhadap keluarga sendiri. Tujuannya, jangan karena ulah kita, keluarga terkena getahnya, dan menanggung aib itu. Cacat cela itu dibawa hingga mati.
Jika anak buah khilaf, curang, dan mengambil jalan pintas itu bukan kesalahan dan tanggung jawab saya. Tapi mereka yang silau materi dan ingin cepat kaya. Sehingga mengambil jalan pintas dan nekad berbuat curang.
Jika banyak langganan saya dijual ke pabrik lain demi memperoleh komisi dan agar ia dipercaya oleh pabrik itu, sepenuhnya itu salah mereka. Karena kejujuran itu harus dihidupi agar hidup kita berkualitas.
Saya marah, sakit hati, dan rugi, karena kehilangan pelanggan?
Tidak! Saya tidak berbuat salah, curang, dan hal negatif. Sehingga tidak ada yang harus disesali. Hal itu sebagai resiko dari perjuangan yang harus diterima dengan berbesar hati. Bagi saya, tidak ada gunanya sakit hati dan mendendam mereka.
Saya percaya dan mengimani, kejujuran itu membuka pintu rezeki. Orang jujur itu selalu mujur dan perbuatan baik adalah benteng orang benar di hadapan Tuhan.
Teruslah berbuat baik dan benar agar berlimpah kasih setia-Nya.
Mas Redjo

