Kita jangan jadi penghalang untuk melakukan tiga hal ini: berdoa, berpuasa, dan bersedekah. Tidak usah memakai panggung. Hal ini adalah olah rohani, olah spiritual kita, bukan sebuah pertunjukkan.
“Dan Bapamu yang melihat secara rahasia akan membalasmu” (Matius 6: 4, 6, 18).
Tidak usah khawatir. Semua itu dilihat dan dicatat dengan baik oleh Bapa di Surga. Semuanya diperhitungkan Tuhan. Sebab, dengan ketiga tindakan rohani itu, kita telah menyenangkan hati-Nya.
Khotbah Yesus di atas bukit itu amat menyentuh hati. Ibaratnya, kita langsung dibawa kepada semangat inti, yakni menyangkut praktek kehidupan kita sehari-hari.
Yesus menegaskan pentingnya sikap keagamaan yang mesti dijalankan sebagai tindakan ibadah sejati. Jangan sampai kita jadi penghalang bagi ketiganya, yaitu berdoa, berpuasa, dan bersedekah.
Kita melakukan ketiga hal itu bukan dengan maksud bersandiwara bagai sebuah pertunjukan, apalagi untuk saling berkompetisi dan sorak-sorai. Melainkan ketiganya harus dilakukan dengan motivasi murni, yaitu makin memuliakan Allah dalam Roh dan Kebenaran. Karena tanpa melakukan dengan motivasi murni itu kita tidak mendapatkan apa-apa. Justru hidup rohani kita terhambat pertumbuhannya dan tidak mendatangkan berkat.
Kita jangan suka pamer, karena kita adalah anak-anak Tuhan.
Ketiga pilar rohani ini bisa jadi penghubung kita dengan Allah. Kita jangan terhalangi oleh nafsu diri dan orang lain. Dengan ketiga pilar rohani ini, makin memantabkan kedekatan relasi kita dengan Tuhan, juga menjadikan kita sebagai penyalur berkat bagi sesama.
Banyak dari sesama kita yang membutuhkan doa, uluran kasih, dan ingin dipulihkan dengan mati raga kita.
Maka inti doa kita adalah, “Ya Yesusku, jadikanlah aku pembawa berkat, kasih-karunia, dan damai-sejahtera-Mu kepada sesama. Amin.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

