Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hatiku tidaklah tenang
sebelum aku sampai
pada-Mu.”
(Pujangga St. Agustinus)
Sudah cukup sering, bahwa orang akan tampak kebingungan, jika kepadanya diajukan sebuah pertanyaan yang sungguh menantang.
“Sahabatku, apa dan ke mana tujuan hidupmu?”
Mendapat pertanyaan seperti ini, biasanya seketika orang itu akan merasa sangat sukar untuk menjawabnya. Mengapa?
Kita pun sering Kebingungan
Ilmuwan Inggris, Huxley sadar, bahwa dirinya akan terlambat untuk hadir dan berceramah dalam sebuah forum penting.
Dengan spontan dan tergesa-gesa ia melompat ke dalam sebuah kereta kuda dan berkata kepada kusirnya, “Larikan kuda itu dengan cepat.” Apa selanjutnya yang terjadi?
Sang kusir itu segera memacu kudanya, sehingga berlari dengan sangat cepat. Tiba-tiba Tuan Huckey sadar, bahwa ada hal yang sangat penting yang perlu disampaikan kepada kusir.
Sambil menjulurkan kepalanya kel uar jendela, maka berteriaklah ia kepada kusir, “Hai, tahukah Anda ke mana tujuan saya?”
“Tidak Tuan, saya tidak tahu!” Lalu segera disambungnya lagi, “Tapi, saya melarikan kuda ini dengan cepat sesuai perintah Tuan.”
(Clifton Fadiman)
1500 Cerita Bermakna
Hidup Tidak Sadar Diri
Mencermati kisah dramatis ini, saya segera teringat akan kebingungan seorang Raja yang sedang sekarat saat diajukan sebuah pertanyaan.
Ketika seorang sahabat berdiri di sisi ranjang Raja dan bertanya, “Tuan, apakah sudah menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan sepanjang ini?”
“Perjalanan ke mana, saya tidak pernah memikirkannya,” sahut Raja.
Setali Tiga Uang
Itulah sebuah jawaban yang ibarat ‘setali tiga uang.’ Maksudnya, saat ditanya, apa arah dan tujuan hidup. Memang sudah sangat sering, bahwa orang akan kebingungan dan gelagapan. Ternyata di mana-mana dan siapa saja akan kebingungan dan akhirnya memberikan jawaban sekenanya.
Mengapa Demikian?
“Hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang sia-sia,” demikian petuah sang kebijaksanaan.
Mengapa kita cenderung untuk tidak pernah mau merefleksikan hidup kita? Apakah kita tidak pernah sadar, bahwa tatkala adanya kelahiran, maka akan diakhiri dengan kematian, sebagai sebuah hukum kepastian kehidupan?
Ataukah juga kita sudah terbenam dalam persaingan dengan cara berlomba mengumpulkan harta dunia?
Juga seperti yang dilakonkan oleh Tuan Huxley, karena hidupnya yang selaku dalam kesibukan dan tergesa-gesaan, maka ia lupa ke mana arah tujuannya.
Bersyukurlah, karena kusir itu masih mau mendengarkan kita.
Andaikan tidak peduli, kita akan terseret dan tersesat di jalan hidup ini.
Mari ingatlah senantiasa akan arah dan tujuan hidup kita!
Saat ini, di manakah Anda sudah berada?
…
Kediri, 18 Maret 2025

