Simply da Flores
…
1.
Langit samar nampak wajah purnama
Lampu taman menyinari tarian serangga
Kawanan kucing hilir mudik mencari mangsa
Dari sela gerbang taman masih terlihat jelas
sosok dua Proklamator
dan di bawahnya teks Proklamasi terbentang
Di sinilah tonggak istimewa sejarah NKRI
“Di sini Pintu Gerbang Kemerdekaan Bangsa dan Negara Indonesia tercinta
Anugerah Sang Maha Pengasih
Bukti jawaban doa, perjuangan, dan pengorbanan jiwa raga para pahlawan”
Kekuatan sihir dan Iblis manakah, yang sedang mencengkram dan merasuk bangsa kita?
2.
Lampu malam menuntun langkahku mendekat
Coba kubaca perlahan teks yang dicat hitam
Dalam hati aku sedih bergumam
“Mengapa prasasti teks proklamasi NKRI dicat hitam
Mungkinkah ada hubungan dengan tagar “Indonesia Gelap”
Benarkah ini cerminan pikiran dan sanubari bangsaku
Apakah ini cuma kebetulan dan hanya hal sepele bagi satu prasasti tonggak sejarah istimewa NKRI?
“Melawan penjajah dari bangsa asing sangat sulit
Tetapi jauh lebih sulit untuk melawan penjajah dari bangsa sendiri
Apalagi, jika penjajah bangsa asing bersatu dengan penjajah dari dalam bangsa kita”
3.
Aku tanyakan pada gulita malam
Benarkah kelam gelap gulita itu kejahatan
Apakah sinar cahaya terang itu kebaikan
Ataukah
terang dan gelap itu adalah kesatuan berkah Sang Pencipta dalam alam semesta?
Yang pasti, bahwa taman ini dibuat manusia
Ada sejarah penting NKRI terpatri di sini
Dua sosok Proklamator dibuat oleh pematung
Juga warna patung dan teks proklamasi yang hitam
Apakah warna hitam ini cerminan budaya korupsi pejabat?
Atau warna pada prasati istimewa ini cuma sekadar alasan teknis
Mungkin kedengaran dan melihat kecil serta sepele
tetapi nafas pribadi baru dianggap maha penting, ketika bermasalah atau berhenti
4.
Pada kedua Proklamator aku bertanya
Apakah bangsa ini sedang lupa pada sejarah dan makna proklamasi NKRI?
Apakah para pejabat koruptor dan politisi busuk tidak tahu sumpah jabatannya?
Sudah sedemikian hitamkah nalar dan sanubari bangsa seperti teks Proklamasi yang dicat hitam pekat?
Dua Proklamator dan para sepuh serta pahlawan bangsa menjawab lirih
“Tanyakan pada diri kalian, apa yang kalian buat untuk mengisi kemerdekaan NKRI
Kami sudah mengantarkan sampai di Pintu Gerbang Kemerdekaan ini
Kalian yang harus mengisi dan mewujudkan cita-cita Proklamasi
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya”
5.
Dalam remang malam aku melangkah tinggalkan taman Tugu Proklamasi
Coba kuhitung bekas langkah yang ada di sana
Coba kutanya pada debu tanah dan pepohonan
“Langkah siapa saja yang pernah berkunjung ke taman Proklamasi ini
Berapa pejabat negara yang pernah ke tempat ini
Berapa banyak yang tahu teks proklamasi dan hayati maknanya
Mengapa teks proklamasi dicat warna hitam
Apakah ini bukti sosok diri pejabat korup dan politisi busuk
Mungkinkah ini akar persoalan “Indonesia Gelap?”
Hukum belum berwibawa
Kepribadian bangsa belum beradab dan berbudaya
Kehidupan sosial ekonomi belum berdiskusi dan adil sejahtera
Kedaulatan bangsa dan negara sedang diobok-obok bangsa lain
Kekayaan sumber daya alam terus dirampok siang malam
6.
Dalam remang gulita malam
aku duduk di kursi trotoar berkhayal
Jika roh jiwa dua Proklamator dan para tokoh pendiri bangsa
bisa datangi semua pejabat negara saat ini
lalu mengingatkan makna sejarah NKRI dan tugas jabatan mereka
Kiranya akan sirna pejabat tamak koruptor dan politisi busuk
“Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (bangsa dan Negara)
Katakan benar, jika benar
Katakan salah, jika salah
Embanlah amanat penderitaan rakyat
Jalankan dengan setia sumpah jabatanmu
Lihatlah duka lara derita yang mendera anak bangsamu”
7.
Kepada malam aku berbisik
akankan terbit cahaya fajar dalam sanubari bangsaku
Mengapa saat ini negeriku diterpa aneka problema
Benarkah bangsa ini sedang diperebutkan pihak lain
demi menguasai kekayaan sumber daya alamnya?
Selain korupsi telah menjadi budaya
ada deretan kasus masuk dalam sindikat lintas bangsa negara
Bangsa ini jadi target penjualan aneka produk narkoba
Kejahatan hacker dan judol sedang merampok keuangan rakyat
Anak-anak pewaris negeri sedang dihasut dan diajari berontak
Mungkinkah ini fakta gelombang dasyat neo-kolonialisme dan kapitalisme milenial?

