Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
Dikisahkan, ada seorang Tuan yang memikiki dua orang karyawan selaku pemikul air.
Keduanya setiap hari memikul air dari sungai pergi pulang menuju rumah Tuannya.
Namun sayang, karena seorang, katakan si (A) dari kedua pemikul air ini yang hasil kerjanya kurang maksimal.
Mengapa? Karena air yang dibawanya tidak sebanyak si (B).
Setiap hari, si (B) menghinanya dengan kata-kata pahit. Ejekan itu diterimanya, namun sangat mengganggu konsentrasi kerjanya.
Suatu hari, si (A) mengadukan keluhannya kepada Tuannya, yang ternyata dengan santai menanggapi keluhan karyawannya itu.
“Kamu tidak perlu risau, jalankan terus saja pekerjaanmu itu,” demikian tanggapan Tuannya.
Namun, suatu hari tatkala ketersinggungannya terhadap ejekan si (B) memuncak, sekali lagi dia menghadap Tuannya.
Begini, penjelasan dari Tuannya. “Kamu, justru sungguh berjasa bagiku, karena setiap hari tidak hanya membawa air ke rumahku, tapi lewat ember bocormu itu, kamu pun telah turut menyiram bunga-bunga di sepanjang jalan yang kamu lintasi. Lihatlah, betapa indah jalan menuju ke rumahku, karena dihiasi aneka bunga indah. Bukankah, bunga-bunga indah bermekaran itu, karena menerima tetesan air dari ember bocormu?”
Mendengar penjelasan arif itu, kini mengertilah si (A), karena ternyata sungguh besar jasanya, tidak saja kepada sang Tuannya, namun juga kepada alam semesta.
Sejak saat itu, dia tidak lagi minder dan sakit hati, namun kian setia memikul air dengan menggunakan ‘ember bocor’ itu.
Kini, dia sadar, bahwa Tuannya tentu tidak saja membutuhkan air, tapi juga sepot bunga segar di atas mejanya.
Kepahitan, sakit hati, dan kekurangan seorang manusia, ternyata dapat membawa berkat!
Oh, Gusti Tuhan, sungguh besar misteri kehidupan ini!
Inilah yang disebut, ‘disintegrasi positif’.
…
Kediri, 15 Maret 2025

