“Jangan berhitung dagang dengan Tuhan, karena kita rugi sendiri.” -Mas Redjo
Melayani sesama, karena pamrih itu membuat hidup kita jadi berbeban berat. Tapi melayani dengan hati sebagai ungkapan syukur, hidup ini jadi damai dan berlimpah sukacita.
Saya melihat banyak bukti. Orang pamrih itu bekerjanya setengah hati, ogah-ogahan, dan berharap memperoleh keuntungan lebih dari pelayanannya itu. (Maaf), kesannya berbuat baik itu untuk menyogok Tuhan.
Faktanya, orang pamrih itu mudah kecewa, tersinggung, dan sakit hati, jika ekspektasinya tidak terpenuhi. Lebih parah lagi, mereka itu mudah mutungan, mogok, dan putus asa, ketika didera badai persoalan hidup. Bahkan tidak sedikit yang langsung berhenti, dan ke luar dari komunitasnya.
Berbeda hasilnya, jika kita melayani dengan tulus. Karena panggilan hati itu anugerah Tuhan.
Mereka melayani itu tidak untuk dipuji, dihormati, atau mengejar ekspektasi. Tapi dari kerendahan hati sebagai pujian dan ungkapan syukur kepada Tuhan yang murah hati.
Saya ingat dengan Pak SM yang pensiunan, tapi aktivis Gereja. Ia mempunyai kisah mirip dengan janda miskin yang dipuji Tuhan Yesus, karena memberi tulus hati (Mark 14: 41-44).
Pak SM anti mendengar keluhan atau rintihan orang lain. Sehingga dengan ringan tangan ia berbagi untuk membantu meringankannya. Padahal ia yang menduda itu hidup pas-pasan.
“Dia lebih membutuhkan daripada saya,” begitu jawabnya, jika ditanya alasannya membantu orang lain. Faktanya, kedua anaknya yang SMA dan kuliah itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Jika kita menjalani hidup dengan ikhlas hati itu memudahkan diri sendiri,” jelas Pak SM, ketika menyeringkan pengalaman imannya itu dalam pertemuan Lingkungan.
Meski mengalami masa sulit, Pak SM tidak pernah menceritakan masalah itu pada orang lain, kecuali pada Tuhan lewat doa-doanya. Wajahnya selalu cerah sumringah seperti tiada beban hidup.
Begitu pula, ketika anaknya hendak masuk ke perguruan tinggi. Rezeki itu mendatanginya. Ia yang ringan tangan itu memperoleh order dari instansi tempatnya dulu bekerja dan relasinya di Gereja.
“Asal mau obah, pasti mamah,” tukas Pak SM merendah. Pekerjaan apa pun dijalani oleh Pak SM asal halal.
Mas Redjo

