Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sangat banyak orang
yang ingin berbicara
dengan Tuhan, namun
mereka tidak tahu,
bagaimana caranya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Di dunia fana yang sangat luas dan penuh pergolakan ini, ternyata tidak sedikit orang yang ingin berbicara dari hati ke hati serta berkomunikasi dengan Tuhan. Tapi mereka tidak menemukan cara dan jalannya.
Dalam hal ini, mereka selalu seolah-olah menemukan sebuah jalan buntu yang berdampak, bahwa kerinduannya untuk berkomunikasi dengan Tuhan akan sirna seketika.
Berdoa itu seperti sedang Menelepon
Di sebuah sekolah Minggu, seorang Pastor giat mengumpulkan anak-anak untuk sekadar bercerita. Suatu hari, beliau membawa sebuah alat peraga berupa sebuah telepon.
“Anak-anak, di saat kalian sedang menelepon seorang di seberang sana, bukankah kalian tidak bisa melihat orang itu?” Serentak anak-anak itu menyahut, “Ya.”
“Nah, anak-anak, demikian juga di saat kalian sedang berbicara dengan Tuhan. Bukankah di saat itu, Tuhan sedang berada di tempat yang jauh? Tapi Dia mendengar suara kalian.”
Setelah mendengar penjelasan dan peragaan dari Pastor itu, maka bertanyalah seorang anak, “Berapakah nomor-Nya?”
(Arthur Tonne)
1500 Cerita Bermakna
Sebuah Teknik Pendekatan Pengajaran
Seorang Guru hebat biasanya selalu berusaha untuk mendeskripsikan sebuah konsep materi secara transparan lewat penggunaan alat peraga.
Hal ini bertujuan, agar pengajaran itu lebih mudah ditangkap dan dipahami oleh para muridnya. Biasanya para murid akan sangat antusias dan menyukai model pendekatan pengajaran secara audio visual.
Berapakah Nomor-Nya?
Dalam praktik hidup berkeagamaan, bukankah tidak jarang, kita manusia lebih menginginkan agar relasi kita dengan Tuhan makin terasa lebih konkret dan dekat, bukan?
Mengapa? Bukankah sebuah relasi yang jauh dan abstrak dapat pula melemahkan kerinduan kita untuk berdoa kepada-Nya?
Sejatinya di dalam sanubari kita, dapat saja kerinduan untuk berkomunikasi yang intens itu akan terhalang oleh jarak yang jauh dan suasana yang serba abstrak.
Sebuah kesimpulan pragmatis yang akhirnya dapat melahirkan sebuah pertanyaan simpel dan spontan dari seorang anak adalah sebentuk kewajaran yang menjurus ke hal yang lebih konkret dan praktis. Logika lurus anak, ya, jika memang demikian, kita minta saja nomor telepon-Nya itu.
Hambatan untuk Berdoa
Biasanya selalu ada aneka hambatan dan rintangan untuk berdoa yang justru jadi faktor penghambat kita, antara lain:
- Kemalasan dan sikap enggan untuk berdoa.
- Gangguan dari lingkungan dan pergaulan.
- Rasa kecewa dan putus asa atas kegagalan hidup.
- Godaan untuk hidup bebas dan berfoya-foya.
- Konsep, bahwa berdoa itu harus dilakukan di rumah ibadah.
- Menganggap, bahwa Tuhan tidak ada, maka berdoa itu tindakan yang sia-sia.
Tentu masih ada seribu satu macam alasan lain lagi. Itulah realitas yang ada dan terjadi dalam hidup kita.
Namun patut diingat, bahwa sesungguhnya aktivitas berdoa itu ibarat “Anda dan saya sedang menarik dan menghembuskan udara.” Jadi, jika tidak dilakukan, maka secara rohani, kita akan mati. Jadi, berdoa itu adalah sebuah aktivitas rohani, saat spesial, ibarat Anda membangun sebuah titian penghubung dari nurani ke dalam nurani Tuhan.
Ingatlah nomor telepon milik Tuhan, sesungguhnya sudah tersedia di dalam nurani Anda dan saya.
Mari kita segera bertelepon-ria lewat doa!
…
Kediri, 12 Maret 2025

