Oleh: Fr. M. Christoforus BHK
…
Sejak masa remajaku hingga kini, saya sudah cukup sering dan bahkan menggunakan adagium, “gali lubang tutup lubang.”
Adagium ini mengisyaratkan, bahwa kehidupan ini ada tantangannya. Ada risiko yang wajib ditanggung, jika Anda berani bermain api.
Anda akan basah kuyup, jika berani berenang di arus deras.
Sejatinya manusia itu tidak dapat melarikan diri dari jeratan maut ini. Dari realitas hukum alam ini, hukum sebab-akibat.
“Gali lubang tutup lubang” itu membuat banyak orang seolah nyaman hidup berutang demi menutupi utang. Ya, setali tiga uang, kata Nenek dan Kakek.
Karena utang yang lalu belum sanggup dibayar, maka dia berutang lagi untuk melunasinya.
Berarti dia sedang menimbun utang. Dia laksana membangun menara utang.
Aktivitas pinjam meminjam ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan hidup manusia.
Secara mental psikologis hal ini menggambarkan, sungguh tidak berdayanya manusia itu. Dia dililiti oleh mental rapuh dan cengeng, tidak realistis dan tidak berani bersikap tegas kepada diri sendiri.
Fakta yang terjadi, bahwa manusia itu telah rela menguburkan karakter diri dengan memindahkan suatu masalah ke masalah baru lagi.
Jadi, yang terjadi ialah tindakan memeranakan diri. Jika hal ini dibiarkan berlarut, justru akan mendatangkan kesengsaraan, karena kian dililiti benalu hidup.
Inilah contoh konkret tindakan memperbudak diri sendiri.
Mari kita biasakan untuk hidup secara sadar, dengan sanggup mengukur, dan menakar kemampuan diri, serta berani bertindak tegas kepada diri sendiri.
Aktivitas menggali lubang menutup lubang itu sesungguhnya, hanyalah sebabak sandiwara kekanak-kanakan.
…
Kediri, 11 Maret 2025

