“Perbuatan baik itu tidak untuk diingat agar tidak mengotori pikiran sendiri.” -Mas Redjo
Sejak semula saya mengingatkan diri sendiri. Ikhlas itu tanpa sekat, syarat, dan tidak berbekas. Tapi perbuatan baik yang diterima itu harus diingat agar kita tahu diri. Bahwa anugerah Tuhan luar biasa dan diberikan kepada kita lewat orang-orang yang dikasihi-Nya.
Dengan menolak ingat perbuatan baik, saya belajar untuk hidup ikhlas dan rendah hati.
Begitu pula yang saya lakukan, ketika memperoleh perlakuan buruk dan jelek dari orang lain untuk tidak mengingatnya. Tapi memaafkan, mengasihi, dan mendoakan agar ia sadar untuk memperbaikinya, dan jadi baik.
Dengan memaafkan perbuatan buruk itu agar saya tidak membalas perlakuannya. Karena membalas, membenci, dan mendendam itu mencemari hati ini dan datangnya dari si Jahat. Saya melupakan hal buruk itu untuk melihat hikmat Tuhan, dan mendewasakan iman.
Dengan mengasihi orang yang berbuat buruk dan bersalah itu saya belajar dari teladan Tuhan Yesus untuk mengasihi tanpa batas agar saya jadi pribadi yang murah hati.
Dengan mendoakan, saya melepas ganjalan dari pikiran ini untuk tidak mengingat-ingat perlakuan buruk dan menyakitkan itu.
Dengan melepaskan hal-hal negatif dan buruk itu saya belajar untuk makin mendekatkan diri pada Tuhan dan mengasihi sesama.
Ikhlas itu tanpa sarat dan sekat, karena ungkapan belas kasih-Nya.
Mas Redjo

