Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Biarkanlah orang-orang
pergi sesuai keinginan nuraninya, dan janganlah
sekali-kali engkau
menghalanginya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Itu Kebebasan Personal, Jangan Kebakaran Jenggot
Hari-hari ini, di sini, di sudut nurani ini dan juga di sekitar kita, banyak orang sangat mudah untuk tersulut titik didih suhu emosinya, tatkala akhirnya seseorang berani untuk memilih ke luar dan pergi dari kelompok kebersamaan mereka.
Dalam konteks menghargai dan menghormati sebuah pilihan bebas sebagai ruang privat seseorang, hendaknya Anda dan saya jangan mudah kebakaran jenggot.
Siapakah Anda, sehingga Anda merasa berwewenang untuk mengendalikan kebebasan pilihan orang lain? Tidak! Anda dan saya tidak berwewenang setitik pun untuk mengendalikan seseorang untuk pergi sesuai perintah nurani.
Tuhan pun Rela Membiarkannya
Sering kali kita mendengar dan membaca, bahwa ada orang-orang yang sangat cemas dan merasa terancam hidupnya, tatkala ia berani ke luar dan pergi dari kelompok kebersamaannya.
Tetapi anehnya, justru mereka yang ditinggalkannya itu mudah naik pitam dengan memarahi, mengadili, mengutuki, dan bahkan berusaha untuk membunuhnya.
Mengapa bisa terjadi demikian kerasnya sikap mereka? Hal itu terjadi, karena sempit, dangkal, dan piciknya wawasan mereka. Di sisi lain, mereka berpandangan, bahwa kelompoknya adalah yang paling benar. Bahkan ada yang berani berkata, bahwa di luar kelompoknya tidak ada kebenaran dan keselamatan.
Inilah dampak psikologis dari praktik kehidupan berkeagamaan yang diibaratkan sebagai penumpang gelap dari sebuah kereta senja. Inilah model berkeagamaan yang hanya berada pada taraf ‘religiositas simbolik’.
Mengapa? Bukankah mereka beragama sekadar untuk menonjolkan dan menampilkan asesoris lahiriah belaka? Bahkan mereka merasa, bahwa pihak lain itu pasti salah, karena tampil berbeda dengan mereka. Maka, mereka akan bersikap sangat ekstrem lewat praktik hidup mereka.
Inilah Sikap Tuhan
Namun, di sisi yang lain, sikap mereka sungguh sangat kontras dengan sikap Tuhan, yang justru rela untuk membiarkan orang-orang boleh pergi. Seperti yang telah kita ketahui dari Al Kitab.
Bagaimana Tuhan rela dan membiarkan seorang pemuda kaya untuk boleh pergi sesuai kehendaknya? “Pergi dan juallah segala harta milikmu, dan sesudah itu, ikutilah Aku.”
Namun bukankah ternyata si pemuda itu merasa kecewa, karena banyak hartanya? Lalu ia pun pergi.
Bukankah Yesus tidak memaksa atau mengancamnya? Tidak! Yesus memberikan kebebasan penuh kepada Anda untuk pergi ke mana pun.
Tuhan Tidak Mendendam
Sekali lagi, cermatilah dengan saksama ‘Kisah Anak Hilang atau Sang Bapak Berbelas kasih!”
Misteri apa yang telah Anda temukan, dan refleksikanlah! Bukankah, bahkan Tuhan ikhlas untuk memestakan anak durhaka itu? Bahkan didandani-Nya pula anak itu dengan mengenakan jubah baru, simbol manusia baru? Juga dikenakan-Nya sebentuk cicin indah pada pada jemari manisnya? Itulah simbol cinta sejati tidak bersyarat? Juga dikenakan-Nya sepatu baru di kaki penggelandang jalanan itu? Bahkan rela disembelih-Nya seekor anak domba paling tambun sambil berkata, “Mari kita berpesta ria, karena anakku yang hilang telah didapati kembali. Ia telah mati dan kini hidup kembali.”
Inilah sifat Tuhan Sang Maha Kasih. Sekeping wajah tulus Tuhan yang berbelas kasih. “Deus Caritas est,” Allah adalah cinta.
Dialah Tuhan yang telah membiarkan manusia untuk bebas memilih jalannya sendiri. Dialah Tuhan yang tidak memaksakan kehendak-Nya kepada orang lain. Dia, bahkan sangat merindukan kembalinya siapa pun itu ke pangkuan-Nya.
…
Kediri, 10 Maret 2025

