Luk. 5: 27-32
“Banyak pendosa sombong menutup mata terhadap dosanya sendiri, tapi selalu membuka mulutnya untuk menceritakan dosa orang lain. Akhir kisah, keduanya memiliki gelar yang sama, yakni pendosa. Maka jangan berlagak suci tentang kesucian dirimu sebagai pendosa, karena seringan dan sekecil dosa itu, dosa tetaplah dosa.”
Arogansi pendosa yang sombong terekspresi lewat karakter golongan ini: “Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (ayat 30).
Pelajaran penting bagi kita adalah:
1) Sadarlah, bahwa sekecil dan seringan apa pun dosamu tidak bisa mengecualikanmu dari sebutan manusia pendosa;
2) Pendosa yang sombong akan selalu bangga dengan kesombongannya, namun orang suci adalah pendosa yang berbalik dari dosanya, bertobat dan berjuang jadi kudus seperti Lewi;
3) Percayalah, bahwa Tuhan sedang mencarimu untuk merintis jalan pertobatan demi mendapatkan rahmat pengampunan;
Akhirnya sadarlah, bahwa masa Prapaskah ini adalah saat terindah di mana Tuhan sedang menantimu untuk membawa pulang ke dalam hati-Nya yang penuh kerahiman.
Monsignor RD Inno Ngutra

