Siapa yang tidak pusing dengan godaan? Faktanya sering terjadi, karena tidak bisa mengalahkan godaan, kita jatuh ke dalam dosa. Dosanya itu tidak sekali, tapi berkali-kali. Yang lebih pusing lagi, dosa-dosa yang diperbuat itu selalu sama.
Apakah ada penyesalan? Apa ada keinginan kuat untuk berhenti dari perbuatan dosa, bertobat untuk pembaharuan hidup, dan hidup baru? Dari pertanyaan di atas, tidak ada yang bisa memberi jaminan. Buktinya perbuatan dosa-dosa kita tetap sama, dan itu-itu saja.
Ketika kita sudah tidak tahan dengan godaan, lalu hidup kita dikendalikan oleh keinginan untuk berbuat jahat, pasti kita jatuh dalam perbuatan dosa.
Kita sering dibuat penasaran dengan godaan itu. Coba diikuti godaan itu, bagaimana cara bekerjanya. Benar-benar yang namanya godaan itu bisa memasuki pikiran dan hati kita dengan sangat kuat. Sepertinya godaan itu terus-menerus mengempur pertahanan kita, hingga jebol. Kita benar-benar jatuh dalam dosa, yang awalnya mungkin kita merasa tidak bisa digoda.
Hari ini mungkin, kita bisa melawan godaan. Tapi, godaan itu tidak menyerah. Dia sudah masuk ke pikiran kita. Mulai terjadi yang namanya pergumulan: iya atau tidak, diikuti atau ditolak, dilakukan atau dihindari. Karena itu, kita memohon pertolongan Roh Kudus atau mengikuti roh sendiri. Segala macam pertimbangan dilakukan. Segala kekuatan iman dihadirkan. Segala pertimbangan moral diperhitungkan. Ujungnya sama, yang dilakukan adalah perbuatan dosa.
Ketika kita pernah jatuh ke dalam dosa, selamanya kita akan terus-menerus bergumul: berbuat dosa atau tidak berbuat dosa. Dosanya sering atau jarang. Atau sudah tidak peduli lagi, hal ini dosa atau bukan? Karena sudah menjadi kebiasaan.
Godaan itu memang membuat kita jadi budaknya. Kadang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Yang menasihati kita, mungkin dosanya lebih banyak.
Lebih bijak, kita membaca nasihat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma 6: 23: Sebab upah dosa ialah maut.
Mari mohon pada Roh Kudus agar kita teguh iman untuk mengatasi godaan jahat itu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

