Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mengapa lampu itu
tidak Anda nyalakan?”
(Bunda Teresa)
Cahaya Hidup yang Memancarkan Kasih
Hidup yang bermakna adalah sebentuk hidup yang dipersembahkan kepada sesama. Itulah bentuk atau cara cara hidup yang total diabdikan demi menghidupi sesama. Mereka yang mampu mempersermbahkan diri, biasanya pelita hidupnya akan tetap bernyala.
Lelaki Kesepian
Tulisan ini saya turunkan, karena terdorong oleh sebuah refleksi dari pengalaman hidup Bunda Teresa di saat beliau bertandang ke bumi kanguru, Melbourne, Australia.
Saya mengunjungi seorang lelaki tua yang sangat kesepian. Ia tinggal seorang diri dan tidak memiliki keluarga. Di saat saya melihat kamarnya, tampak sungguh menyedihkan keadaannya. Saat itu, saya sangat ingin untuk membersihkan kamarnya itu. Tapi, ia mengatakan, bahwa “Tidak perlu. Saya bisa melakukan sendiri.” Saya pun terdiam.
Akhirnya ia membolehkan saya membersihkannya. Di saat itu, saya menemukan sebuah lampu tua nan antik tapi berselimutkan debu.
Saya bertanya, “Mengapa lampu itu tidak Anda nyalakan?” Jawabnya, “Untuk siapa? Toh tidak seorang pun yang datang ke sini.”
“Maukah Anda menyalakan lampu itu, jika ada seorang Suster yang mengunjungi Anda?” kata saya.
“Ya, asalkan saya mendengar suara manusia, saya akan menyalakannya.”
Pada hari berikutnya, dia menitipkan sebuah pesan kepada saya, “Katakan kepada teman saya, bahwa lampu yang telah dinyalakan dalam hidup saya masih tetap menyala.”
Lihatlah! Sungguh, betapa berartinya sebuah perbuatan kecil itu.
(Jaya Chaliha & Edward Le Joly)
The Joy in Loving
365 Hari Bersama Ibu Teresa
Keprihatinan Lahir Batin
Ternyata di dalam kehidupan kita selalu saja ada orang-orang yang hidup sendirian, kesepian, dan sangat berantakan kondisi lahir batinnya. Juga kamarnya sebagai tempat tinggalnya tampak tak terurus.
Ternyata turut morat-marit pula hidup batiniahnya. Di sana ada sebuah lampu tua nan antik berselimutkan debu yang tak sempat dinyalakan. Artinya, di sana ada suasana kesepian yang mencekam. Ditambah dengan suasana kesendirian yang mencekam pula.
Kita adalah Sebuah Lampu
Bukankah kita sebagai sebuah hadiah terindah dari Tuhan, juga adalah sebuah lampu? Untuk itu, secara rohani, janganlah sekali-kali kita membiarkannya untuk diselimuti oleh debu polusi zaman ini. Karena lampu itu adalah simbol jati diri kita?
Untuk itu, dibutuhkan setetes minyak berupa roh atau spirit yang mampu menyegarkan jiwa batin kita.
Bagaimana kita dapat mengabdikan diri kepada dan demi sesama, jika ternyata, kita sedang berkubang di dalam kolam berlumpur?
Untuk itu, mari kita rela serta membiarkan Tuhan memasuki rumah rohani kita dan menyalakan kembali lampu hidup kita!
…
Kediri, 6 Maret 2025

