Hari Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah, sebuah periode penting dalam kalender liturgi Gereja, di mana kita diajak merenung, berdoa, dan berpuasa sebagai persiapan merayakan Paskah. Kita memulai masa Retret Agung selama empat puluh hari ke depan. Bacaan-bacaan hari ini mengarahkan kita untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus dan rendah hati, memohon belas kasihan-Nya, dan menjalani hidup dengan integritas dan kesungguhan.
Nabi Yoel mengajak kita kembali kepada Tuhan dengan segenap hati. Sebab, pertobatan sejati bukanlah sekadar ritual atau penampilan luar, melainkan perubahan hati yang mendalam. Tuhan menginginkan kita merobek hati ini, menunjukkan penyesalan yang tulus atas dosa-dosa kita, dan berbalik kepada-Nya, karena Dia penuh kasih dan belas kasihan.
Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengingatkan, bahwa kita adalah utusan-utusan Kristus yang dipanggil untuk mendamaikan diri kita dengan Allah. Melalui Kristus, kita telah menerima kasih karunia yang besar, dan kita tidak boleh menyia-nyiakannya.
Sekarang adalah saat yang tepat untuk bertobat dan menerima penyelamatan yang Tuhan tawarkan. Melalui bacaan Injil, Yesus mengajarkan kita tentang cara yang benar dalam memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Dia menekankan pentingnya ketulusan hati dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah. Semua yang kita lakukan hendaknya untuk menyenangkan hati Tuhan, bukan mencari pujian dari manusia.
Pada hari Rabu Abu ini, kita diajak memulai perjalanan Prapaskah dengan penuh pertobatan dan kerendahan hati.
Mari kita kembali kepada Tuhan dengan segenap hati untuk merobek hati ini, tidak pakaiannya, dan mengakui dosa-dosa kita dengan tulus.
Mari kita menjalani masa Prapaskah ini dengan doa yang khusyuk, puasa yang tulus, dan sedekah yang ikhlas, dan semuanya itu dilakukan dalam kerahasiaan di hadapan Tuhan yang melihat hati kita.
“Ya, Tuhan, hari ini kami memulai masa Retret Agung. Semoga puasa, doa, dan sedekah kami selama masa ini tidak dilakukan untuk pamer, tapi untuk memuliakan nama-Mu dan mendekatkan diri kepada-Mu. Semoga pula pada hari Paskah nanti kami sungguh-sungguh menikmati buah dari puasa dan pantang ini, yakni kami turut bangkit bersama Kristus. Amin.”
Ziarah Batin

