Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang manusia,
siapakah engkau?”
(Pertanyaan Abadi)
Tiga Buah Pertanyaan Abadi
Pertanyaan abadi itu yang sudah setua usia hidup manusia. Pertanyaan yang bersifat sangat spontan yang deras mengalir dari dasar lubuk jiwa suci manusia. Pertanyaan yang membuat manusia harus terjaga dari tidur panjangnya. Juga pertanyaan refleksi yang mengekspresikan, bahwa manusia adalah ciptaan yang sungguh istimewa di mata Tuhan.
- “Manusia, siapakah engkau?”
- “Manusia, dari manakah engkau?”
- “Manusia, hendak ke manakah engkau?”
Dalam refleksi kefilsafatan dikisahkan, bahwa dia, manusia itu adalah makhluk yang terpental dari langit ke bumi ini. Di sini, di atas bumi maya ini, ia mempertanyakan eksistensi dari dirinya. Bahwa siapakah dia itu sejatinya.
Dilukiskan pula, bahwa dalam kesendirian dan keadaan terlunta tertatih itu, dia mengembara entah ke mana. Dalam kondisi kesendirian dan keterasingannya itu, maka sang filsuf menjulukinya sebagai ‘homo viator’ si pengembara di bumi.
Kisah Suci Agama
Dalam tradisi dan kisah suci keagamaan (Katolik), secara rohani, manusia dikisahkan diciptakan dari debu tanah sesuai citra atau gambar Allah dan dihembusi dengan roh suci Tuhan ke atas ubun-ubun kepalanya.
Dia, manusia itu juga dilukiskan tercipta dari debu tanah dan akan hidup merana laksana rerumputan serta bunga, yang hanya segar di kala pagi dan segera layu di kala rembang petang (Kitab Putra Sirakh)
Dalam ziarah hidupnya dari generasi ke generasi, ciptaan kesayangan Allah itu, ternyata mulai bertindak arogan dengan mengingkari rencana dan kehendak Allah.
Dari situ pula lahirlah sikap menantang kepada Tuhan, sikap iri hati dan permusuhan, sikap balas dendam serta saling membunuh. Dalam konteks ini, tampak, bahwa manusia itu telah melupakan kasih dan rencana Allah atas dirinya.
Ciptaan yang mudah Lupa Daratan
Rencana kasih Tuhan di taman nan indah Eden, ternyata sia-sia dan tak terwujud, karena sifat ingkar serta keras tengkuk dari manusia itu. Ia telah memberontak dan bahkan rela membiarkan dirinya dikibuli oleh kelicikan si jahat yang mau merampasnya dari keheningan dan kebahagiaan Eden.
Realitas Pahit Pedih Kini
Riil pula, bahwa hingga kini, kita turut dan bersama merasakan serta mengalami pahitnya pergulatan hidup ini.
Kita telah masuk dan ada bersama sesama yang lain dalam menghadapi sikon hidup dalam kehidupan riil ini.
Untuk itu, hendaklah kita tidak lupa daratan. Maka, segeralah kita menyadari, siapakah diri kita ini? Dari manakah datangnya kita?
Kita ternyata ibarat butiran manik-manik yang terpental tercecer dari jalinan tali rantai pengikatnya.
Secara rohani, kita tak pernah bahagia, jika hidup terpisah dari Sang Sumber asal (Tuhan). Riil pula, bahwa kita ini ibarat ranting-ranting meranggas yang terpisah dari pohon. Dalam sikon itu, kita mudah untuk diterjang oleh badai ganas.
“Akulah pohon dan kamulah ranting-rantingnya,” kata Tuhan. Jadi, kondisi batin dan rohani kita ini laksana ranting-ranting yang terpisah jauh dari pohon. Keberadaan kita dalam kondisi kerontang merana tak berdaya.
Kita Hendak ke Mana?
Ego sum Via, Veritas, et Vita
“Akulah Jala, Kebenaran, serta Hidup.”
“Marilah kamu semua yang letih lesu jiwamu, Aku akan menyegarkan kamu.”
(Inilah kata-kata Tuhan kepada kita)
Janji dasyat Tuhan kepada kita itu bersifat kekal. Mari kita kembali kepada-Nya! Inilah kesempatan terbaik sebelum kita terlambat.
“Aku pun akan menyertai kamu hingga ke akhir zaman.”
(Inilah sebuah janji abadi)!
…
Kediri, 3 Maret 2025

